MUTIARA “DD” DARI SUNDA
{ 1 }
Hal yang Tidak Terduga
Hal yang Tidak Terduga
Gemercik air di pagi hari, membasahi
daun hijau yang indah. Matahari menyembunyikan cahyanya dibalik awan yang
berkumpul membuat suasana mendung. Mendung yang menemani aktivitas banyak orang
pada pagi hari, terlihat tidak ada seorang pun berbaju tipis, berbaju tebal lah
yang terlihat. biarpun mendung, mereka tetap semangat menjalani aktivitasnya.
Cuaca mendung disertai dingin mengingat selalu pada kasur yang empuk dan
selimut yang setia menghangatkan saat tubuh terasa dingin. Namun, apa lah daya?
Rutinitas tetaplah rutinitas, tidak perlu ditinggalkan, toh tidak membuat susah
sedikit pun.
” Didi, bangun atuh, udah siang ini
teh!” teriak pagi Emak Siti pun salah satu rutinitas yang tidak bisa
ditinggalkan oleh Didi. Didi adalah anak tunggal Emak Siti, dia adalah anak
yang sederhana dan polos. Kesundaannya kental, maklum dia tinggal di tanah
sunda. Tanah kelahirannya Garut membuat sundanya sangat kental, dari sisi
kehidupan sosial, agamanya, semuanya dicampur dengan adat istiadat Sunda. Didi
pun mewarisi sifat-sifat orang sunda yang ramah tamah, sopan santun dan
memiliki kepribadian yang baik. Tetapi, Didi terkenal sebagai anak yang malas.
Dia tidak peduli dengan sekolah dan segala yang berkaitan dengan belajar. Dia
masih duduk di sekolah dasar.Namanya terkenal di seluruh kelas di sekolahnya,
gurunya pun menjadi fans seorang Didi, karena setiap hari pasti ada saja guru
yang ingin bertemu dengan Didi. Tentu saja bertemunya itu bukan tanpa alasan,
ini karena hal yang sangat penting yaitu keterlambatan Didi masuk sekolah.
Tidak bosan Didi menjalani
rutinitasnya bangun siang dan berangkat sekolah siang. Tidak kenal cuaca, tidak
kenal suasana dan tidak kenal keadaan lingkungan sekitarnya. Ya begitulah Didi
yang mempunyai banyak fans itu, rutinitasnya di siang hari sekolah adalah
hormat dengan berdiri satu kaki di depan tiang bendera. Entah dengan cara
apalagi Didi bisa mandiri, tanpa membuat kesalahan. Emak dan Abahnya selalu
menasihatinya, tetapi bagai angin masuk telinga kanan dan keluar telingan kiri,
Didi tetap saja seperti itu.
Teman-temannya menganggap Didi
sebagai orang tahan panas, tetapi bukan melamin ya, maksud tahan panas disini
yaitu tahan terhadap panas matahari ketika ia dihukum. Pergaulan Didi dengan
teman-temannya pun kurang terlihat baik, tidak pernah Didi terlihat pulang
sama-sama dengan mereka, kecuali dengan sahabat karibnya yaitu Topan. Didi dan
Topan menyisiri tepian jalan menuju ke rumah. Memang tidak terlalu jauh jarak
rumah Didi menuju sekolah, dia hanya jalan kaki tanpa meminta bantuan angkutan
apapun. Didi selalu terlihat ceria sepanjang jalan pulang sekolah, tetapi
langkahnya sering terputus-putus disebabkan beberapa hal. Diantaranya karena
sehabis sekolah dia habiskan waktunya untuk bermain.
“ Kamana atuh si Didi teh, meni lama pisan sakola teh”.
Emak Siti menunggu kedatangan anaknya dari sekolah. Dia
setia menunggu Didi di rumah. Terdengar suara pintu membuka diiringin dengan
ucapan salam. Emak Siti dengan segera menuju arah pintu terbuka tersebut dengan
harapan Didi pulang. Tetapi ternyata dugaan Emak salah, hanya ada Topan yang
berdiri dekat pintu. Emakterkejut ketika melihat Topan basah kuyup di tengah
terik matahari. Topan nampak terlihat kedinginan, serta menggigil. Dia sama
sekali tak berkata. Berkali-kali Emak bertanya Topan tak kunjung menjawabnya
dia hanya menggeram dengan kedinginan. Ia mulai berbicara, tetapi patah-patah.
”tengge..lam, Mak.”
Sontak
ucapannya membuat kaget Emak. Emak
dengan keras bertanya-tanya kepada Topan apa yang terjadi dengan Didi. Tak
berpikir lama, Emak langsung menuju sungai yang dekat sekitarnya. Dengan
langkah yang tergesa-gesa dan napas yang tersengal Emak berlari menuju sungai
yang dekat dengan rumahnya. Emak teringat sungai itu adalah tempat bermain
Didi. Mata Emak terbelalak, napasnya berhenti seketika melihat warga sedang
berkerumun, tanpa berpikir lama Emak langsung menembus kerumunan menuju ke
depan, dengan berteriak,
“Didi!”
Hal
itu membuat semua pandangan tertuju pada Emak yang histeris teriakannya.
Pandangan terheran-heran sangat jelas terlihat di mata orang-orang yang
berkerumun dekat sungai. Seketika Emak Siti terlihat diam membisu, tidak
berkata apa-apa, tubuhnya yang gemetar seketika berubah menjadi tubuh bagaikan
tanpa tulang, dengan muka yang ditutupi oleh tangannya. Emak Siti merasakan
malu yang amat dalam, dia menanggung malu sebab yang didapatinya setelah
menembus kerumunan orang menuju ke depan adalah seekor ikan besar yang sedang
dipertontonkan kepada orang-orang. Seekor ikan besar tertangkap di sungai ini
adalah hal yang sangat jarang. Itulah mengapa orang berkerumun disana. Emak
langsung mundur dengan pelan sambil mengatakan,
“maaf”.
Betapa
malunya Emak dengan kejadian itu, Emak kebingungan sendiri, dengan kesal Emak
bergegas menemui Topan yang telah membohonginya. Emak bingung memikirkan kemana
perginya anak tunggalnya itu. Di tengah perjalanan,
“Emak!”
Didi
terlihat dari kejauhan, Emak sangat heran kenapa Didi bisa ada di hadapannya.
Pikiran dan hatinya bercampur aduk antara rasa kesal dan bingung. Sungguh hal
yang sangat menyedihkan bagi seorang ibu. Seorang ibu yang menunggu kedatangan
anaknya dengan sabar malah dibalas dengan hal yang mempermalukan. Ketika Didi
datang di hadapannya, Emak sedikit pun tak mengiraukannya, bahkan menoleh pun
tidak. Emak hanya berjalan lurus menuju rumah dengan tidak menghiraukan segala
pertanyaan Didi. Hingga di rumah pun Emak tetap dalam keadaan membisu.
Dengan keadaan seperti ini, bagi
Didi adalah hal yang biasa. Dia berpikir nanti sebentar lagi Emak akan bersikap
seperti biasa lagi. Didi adalah seorang perayu ibu yang sangat handal, ketika
Emak marah besar pun Didi masih bisa menaklukannya. Mungkinkah hal ini terjadi
karena Didi adalah anak satu-satunya sehingga kasih sayang yang diberikan
begitu besar? Jawabannya itu tidak benar. Tidak dibenarkan jika seorang ibu
hanya mendidik dengan penuh kasih sayang, tetapi bukan juga berarti ibu harus
bersikap keras terhadap anaknya. Dalam memberikan pendidikan, orangtua adalah
orang yang paling berperan didalamnya, sifat dan watak dari seorang anak
merupakan cerminan dari keberhasilan orang tua mendidik anaknya. Jika selalu
memanjakan anak, tentunya bukanlah hal yang baik. Seorang anak akan merasa
manja, sehingga ketika dalam suatu keadaan orangtua tidak dapat memberikan apa
yang biasa diberikan kepada anaknya, si anak akan selalu berontak meminta hal
tersebut. Seorang anak tidak akan mengerti keadaan lingkungan. Lewat hal
tersebut seorang anak harus diberikan
pengertian hal apakah yang harus dilakukan ketika dalam keadaan yang tidak
memungkinkan.
Setelah kejadian yang memalukan itu,
Emak kembali seperti biasa. Ini percis seperti pendapat Didi, Didi merayu
dengan menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi. Dari mulai ketelatannya pulang
ke rumah dan Topan yang datang ke rumah. Saat itu, Didi dan Topan pulang
sekolah bersama, ditengah perjalanan mereka menemukan sabut kelapa yang
tergeletak. Dengan ide yang datang bagai kilat, mereka mengubah sabut kelapa
tersebut menjadi sebuah kapal. Mereka pulang menyisiri aliran sungai kecil dengan
kapal yang mereka hanyutkan bersama aliran sungai tersebut. Tetapi ketika di
tengah perjalanan kapal Topan tersangkut daun pisang yang jatuh ke sungai, hawa
dingin yang selalu datang tiap hari membuat semua orang kedinginan. Akhirnya
Topan memutuskan untuk mengambil daun pisang yang menghalangi kapalnya. Sungai
yang dangkal memudahkan Topan untuk mengambilnya.
Didi berjalan meninggalkan Topan
yang sedang mengambil daun pisang tersebut dengan mengikuti kapalnya. Kejadian yang tidak
terduga menimpa Topan, dia terpeleset saat tangannya hampir mengenai daun
pisang yang melintang itu, sehingga ia masuk ke dalam sungai sampai basah
kuyup. Saat ia telah kembali berjalan dia menemukan kapal Didi yang tersangkut,
kali ini dia tidak berani mengambilnya karena pada bagian ini kedalamannya
lumayan dalam untuk anak seumuran SD. Tapi sama sekali dia tidak melihat Didi
disini, ia kira Didi akan terus mengikuti kapalnya, tetapi saat kapalnya
tersangkut kemanakah Didi? Topan kebingungan dan takut ada suatu hal yang terjadi
dengan Didi. Tanpa berpikir panjang dia bergegas memberitahu Emak Siti, Topan
berlari sangat kencang. Sehingga saat memberitahu Emak Siti napasnya
tersengal-sengal. Topan tidak mengetahui bahwa Emak Siti akan sesegera mungkin
mencari Didi yang belum pulang tanpa mendengar penjelasannya. Ketika Emak telah
ke tepi sungai, Didi datang dengan muka yang sumringah. Didi menceritakan
bagaimana dia bisa pulang telat. Didi mempunyai alasan bahwa dirinya tidak
bersama dengan Topan karenan pada saat kapalnya tersangkut, dia bergegas
mengikuti kadal dengan warna unik lewat di hadapannya. Didi mencarinya hingga
ke pojok sawah, tetapi dia tidak menemukannya. Setelah itu, dia memutuskan
untuk menyusul Topan, tetapi saat dia kembali ke tempat semula dia tidak
menemukan batang hidung Topan, tanpa berpikir panjang Didi langsung menuju
rumah dan didapati Topan yang berdiri di depan rumahnya sambil kedinginan.
Sungguh aneh memang kejadian ini,
Didi merasa bersalah kepada Emak Siti, Didi berjanji tidak akan mengulangi hal ini
lagi. Didi sering kali pulang telat ke rumah tetapi tidak sampai terlalu sore,
kejadian tersebut membuat Didi jera. Didi sangat sayang terhadap Emaknya, Emak
bagi Didi adalah seseorang yang paling penting, walaupun Didi terkenal dengan
malasnya ke sekolah, tetapi bakti Didi kepada Emak tidak pernah ketinggalan.
Emak yang berjualan serabi setiap pagi selalu dibantu oleh Didi, itulah
sebabnya Didi selalu bangun siang karena sehabis membantu Emaknya membuat
serabi Didi tidur kembali. Didi selalu mengedapankan kepentingan Emaknya,
terkadang Didi rela tidak mengerjakan tugas sekolah karena membantu Emaknya,
walaupun Emak telah melarangnya tetapi Didi bersikeras membantu Emaknya.
Wataknya memang keras kepala, susah diatur, hanya ingin menang sendiri.
Berkali-kali Emak menasihati Didi agar tidak malas sekolah, tetapi Didi tetap
saja tidak berubah, akhirnya Emak membiarkannya, Emak berpikir yang terpenting
adalah Didi berakhlak baik.
Setiap orang tua mempunyai cara
tersendiri dalam mendidik anaknya, tidak ada orang tua yang membiarkan anaknya
terjerumus kepada keburukan. Emak mendidik Didi dengan cara membebaskan apa
yang diinginkan oleh Didi, yang terpenting Didi tidak mengikuti pergaulan yang
tidak benar. Lingkungan pedesaan yang masih alami, jarang sekali tersentuh oleh
pergaulan seperti di kota. Jarang sekali terlihat anak yang nongkrong dengan
menggenggam android ditangan. Di desa tempat Didi tinggal, anak-anak desa masih
aktif bermain bersama. Setiap pulang sekolah Didi bermain bersama teman-teman
di lapangan, ketika musim angin tiba banyak layangan yang cantik bertebaran di
atas langit. Saling berlomba ketinggian satu sama lain, selain itu masih ada
permainan tradisional yang dimainkan seperti enggrang, petak umpet, dan
bebentengan.
Adat istiadat Sunda di desa ini
masih sangat terjaga. Orang sunda yang terkenal denga keluguannya tercover
semua di desa ini. Desa yang sangat asri, dengan orang-orang yang ramah tamah
membuat damai desa ini. Mereka buka tidak kenal dengan modern, mereka kenal,
tetapi tidak menjadikan kemodern merajai mereka. Orang-orang di desa ini
disamping dengan kekentalan budayanya juga kental dengan agama. Mereka menomor
satuka agama dalam setiap hal. Semua penduduk desa ini beragama islam, mereka
menjalankan seluruh syariat agama. Tidak ada pelanggaran norma apapun disini.
Mereka hidup saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
Kegiatan keagamaan merupakan hal
yang tidak terpisahkan dari desa ini. Mereka menanamkan nilai keagamaan kepada
anak-anak desa dengan cara mengajari mereka pengetahuan agama Islam. Setiap
sore hari, anak-anak berbondong-bondong menuju masjid untuk mengaji. Sungguh
pemandangan yang sangat indah sore hari ini. Anak-anak bersemangat untuk
menuntut ilmu Al-qur’an. Mereka berlari-lari kecil menuju masjid. Dengan berseri-seri
anak perempuan memakai kerudung warna-warni yang membuat wajah mereka terlihat
cantik, anak laki-laki juga seperti itu, memakai peci dengan rapi dan berjalan
lugu penuh cahaya ketengan di wajahnya. Didi bersama teman-temannya pun tidak
pernah ketinggalan untuk pergi mengaji di sore hari. Di masjid bersama Pak
Ustadz mereka belajar berbagai hal yang berkaitan dengan agama. Dan mereka pun
mengahafal sedikit demi sedikit surat-surat Al-qur’an serta do’a sehari-hari.
Anak-anak desa ini sungguh beruntung, di desa yang mereka tinggali banyak yang
mengajari pengetahuan agama islam. Sehingga di masa kecil mereka mendapatkan
hal yang paling mulia yaitu pelajaran tentang Al-qur’an. Mereka juga menghafal
surat-surat Al-qur’an, hadits Rasulullah, nama-nama Nabi dan Rasul serta
pengetahuan lainnya.
Ustadz Alwan adalah seorang ustadz
pribumi asal desa ini, beliau pergi menuntut ilmu ke luar daerah ketika masih
muda. Ketika beliau telah cukup ilmu, beliau kembali ke desa untuk memberikan
ilmunya kepada orang-orang desa, teritama anak-anak sebagai generasi penerus
bangsa. Ustadz Alwan mengajar tanpa pamrih, tidak ada patokan bayaran
sedikitpun bagi anak-anak desa yang mengaji. Dengan ikhlas Ustadz Alwan
memberikan ilmunya kepada orang-orang di desa.
Didi adalah salah satu penggemar
ustadz Alwan, hal itulah yang membuat Didi tidak pernah absen untuk mengaji.
Rajin Didi pergi ke sekolah dengan pergi ke Masjid berbeda jauh, Didi dalam
satu minggu pergi ke sekolah pasti selalu ada absennya, tetapi di absen ngaji
Didi nyaris tidak mengotori buku absen di Masjid. Didi berpikir bahwa ngaji
adalah hal yang penting, apalagi kesukaannya kepada ustadz Alwan ketika
mengajar membuatnya tidak pernah ingin bolos. Didi sangat paham betul terhadap
apa yang diajarkan oleh Ustadz Alwan, bahkan Didi merupakan salah satu murid
yang pandai di Mushola itu.
Suatu hari, Ustadz Alwan tidak dapat
hadir di Mushola, jama’ah masjid mendapatkan kabar bahwa ustadz Alwan sedang
sakit. Hal ini membuat anak-anak Desa merasa sedih, mereka bingung siapa yang
akan memberikan pelajaran malam ini. Maklum lah anak-anak, naluri mereka yang
senang bermain pun akhirnya muncul. Anak-anak di masjid membuat kegaduhan,
berlarian kesana kemari. Didi tidak tahan mendengar kegaduhan tersebut,
akhirnya Didi memutuskan untuk menjadi pengganti pak ustadz malam ini. Didi
menghentikan kegaduhan yang terjadi. Setelah kegaduhan terhenti, Didi maju ke
depan dan menyeru kepada anak-anak untuk muroja’ah (mengulang) hafalan Al-qur’an. Anak-anak di masjid
menurut, Didi dan Topan adalah anak yang paling tua umurnya dibanding dengan
anak-anak masjid lainnya, jadi wajar ketika Didi menyuruh, mereka langsung
menurut. Muroja’ah pun berlangsung sampai menjelang isya. Waktu belajar mengaji
anak-anak di masjid dimulai dari setelah maghrib hingga menjelang isya, dan
jika ada pelajaran tambahan maka dilanjutkan setelah isya.
Didi dan Topan pulang bersama,ketika
sampai di rumah, Didi menceritakan kepada Emak bahwa tadi Ustadz Alwan tidak
datang ke masjid dan menceritakan apa yang terjadi kepada anak-anak masjid
ketika mereka gaduh. Di dalam hati Emak sangat senang mendengar Didi yang
bersikap tanggung jawab. Itulah yang diharapkan Emak dari anak tunggalnya itu.
Apalagi Didi adalah seorang anak laki-laki, laki-laki jika nanti dewasa akan
ditagih menjadi seorang yang bertanggung jawab. Emak mengaharapkan Didi menjadi
seperti Abahnya, bertanggung jawab.
Membekas terus logat sundanya, sukak, banyak pelajaran yg bisa didapat juga, lanjutkan kak 😁
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusLah beneran bikinnya tentang tanah sunda 😂 bagus mba, terus berkarya yaaa!
BalasHapus