Sabtu, 02 Maret 2019

Novel Chapter 1


MUTIARA “DD” DARI SUNDA

{ 1 }
Hal yang Tidak Terduga

            Gemercik air di pagi hari, membasahi daun hijau yang indah. Matahari menyembunyikan cahyanya dibalik awan yang berkumpul membuat suasana mendung. Mendung yang menemani aktivitas banyak orang pada pagi hari, terlihat tidak ada seorang pun berbaju tipis, berbaju tebal lah yang terlihat. biarpun mendung, mereka tetap semangat menjalani aktivitasnya. Cuaca mendung disertai dingin mengingat selalu pada kasur yang empuk dan selimut yang setia menghangatkan saat tubuh terasa dingin. Namun, apa lah daya? Rutinitas tetaplah rutinitas, tidak perlu ditinggalkan, toh tidak membuat susah sedikit pun.
            ” Didi, bangun atuh, udah siang ini teh!” teriak pagi Emak Siti pun salah satu rutinitas yang tidak bisa ditinggalkan oleh Didi. Didi adalah anak tunggal Emak Siti, dia adalah anak yang sederhana dan polos. Kesundaannya kental, maklum dia tinggal di tanah sunda. Tanah kelahirannya Garut membuat sundanya sangat kental, dari sisi kehidupan sosial, agamanya, semuanya dicampur dengan adat istiadat Sunda. Didi pun mewarisi sifat-sifat orang sunda yang ramah tamah, sopan santun dan memiliki kepribadian yang baik. Tetapi, Didi terkenal sebagai anak yang malas. Dia tidak peduli dengan sekolah dan segala yang berkaitan dengan belajar. Dia masih duduk di sekolah dasar.Namanya terkenal di seluruh kelas di sekolahnya, gurunya pun menjadi fans seorang Didi, karena setiap hari pasti ada saja guru yang ingin bertemu dengan Didi. Tentu saja bertemunya itu bukan tanpa alasan, ini karena hal yang sangat penting yaitu keterlambatan Didi masuk sekolah.
            Tidak bosan Didi menjalani rutinitasnya bangun siang dan berangkat sekolah siang. Tidak kenal cuaca, tidak kenal suasana dan tidak kenal keadaan lingkungan sekitarnya. Ya begitulah Didi yang mempunyai banyak fans itu, rutinitasnya di siang hari sekolah adalah hormat dengan berdiri satu kaki di depan tiang bendera. Entah dengan cara apalagi Didi bisa mandiri, tanpa membuat kesalahan. Emak dan Abahnya selalu menasihatinya, tetapi bagai angin masuk telinga kanan dan keluar telingan kiri, Didi tetap saja seperti itu.
            Teman-temannya menganggap Didi sebagai orang tahan panas, tetapi bukan melamin ya, maksud tahan panas disini yaitu tahan terhadap panas matahari ketika ia dihukum. Pergaulan Didi dengan teman-temannya pun kurang terlihat baik, tidak pernah Didi terlihat pulang sama-sama dengan mereka, kecuali dengan sahabat karibnya yaitu Topan. Didi dan Topan menyisiri tepian jalan menuju ke rumah. Memang tidak terlalu jauh jarak rumah Didi menuju sekolah, dia hanya jalan kaki tanpa meminta bantuan angkutan apapun. Didi selalu terlihat ceria sepanjang jalan pulang sekolah, tetapi langkahnya sering terputus-putus disebabkan beberapa hal. Diantaranya karena sehabis sekolah dia habiskan waktunya untuk bermain.
“ Kamana atuh si Didi teh, meni lama pisan sakola teh”.
Emak Siti menunggu kedatangan anaknya dari sekolah. Dia setia menunggu Didi di rumah. Terdengar suara pintu membuka diiringin dengan ucapan salam. Emak Siti dengan segera menuju arah pintu terbuka tersebut dengan harapan Didi pulang. Tetapi ternyata dugaan Emak salah, hanya ada Topan yang berdiri dekat pintu. Emakterkejut ketika melihat Topan basah kuyup di tengah terik matahari. Topan nampak terlihat kedinginan, serta menggigil. Dia sama sekali tak berkata. Berkali-kali Emak bertanya Topan tak kunjung menjawabnya dia hanya menggeram dengan kedinginan. Ia mulai berbicara, tetapi patah-patah.
”tengge..lam, Mak.”
Sontak ucapannya membuat kaget  Emak. Emak dengan keras bertanya-tanya kepada Topan apa yang terjadi dengan Didi. Tak berpikir lama, Emak langsung menuju sungai yang dekat sekitarnya. Dengan langkah yang tergesa-gesa dan napas yang tersengal Emak berlari menuju sungai yang dekat dengan rumahnya. Emak teringat sungai itu adalah tempat bermain Didi. Mata Emak terbelalak, napasnya berhenti seketika melihat warga sedang berkerumun, tanpa berpikir lama Emak langsung menembus kerumunan menuju ke depan, dengan berteriak,
“Didi!”
Hal itu membuat semua pandangan tertuju pada Emak yang histeris teriakannya. Pandangan terheran-heran sangat jelas terlihat di mata orang-orang yang berkerumun dekat sungai. Seketika Emak Siti terlihat diam membisu, tidak berkata apa-apa, tubuhnya yang gemetar seketika berubah menjadi tubuh bagaikan tanpa tulang, dengan muka yang ditutupi oleh tangannya. Emak Siti merasakan malu yang amat dalam, dia menanggung malu sebab yang didapatinya setelah menembus kerumunan orang menuju ke depan adalah seekor ikan besar yang sedang dipertontonkan kepada orang-orang. Seekor ikan besar tertangkap di sungai ini adalah hal yang sangat jarang. Itulah mengapa orang berkerumun disana. Emak langsung mundur dengan pelan sambil mengatakan,
“maaf”.
Betapa malunya Emak dengan kejadian itu, Emak kebingungan sendiri, dengan kesal Emak bergegas menemui Topan yang telah membohonginya. Emak bingung memikirkan kemana perginya anak tunggalnya itu. Di tengah perjalanan,
“Emak!”
Didi terlihat dari kejauhan, Emak sangat heran kenapa Didi bisa ada di hadapannya. Pikiran dan hatinya bercampur aduk antara rasa kesal dan bingung. Sungguh hal yang sangat menyedihkan bagi seorang ibu. Seorang ibu yang menunggu kedatangan anaknya dengan sabar malah dibalas dengan hal yang mempermalukan. Ketika Didi datang di hadapannya, Emak sedikit pun tak mengiraukannya, bahkan menoleh pun tidak. Emak hanya berjalan lurus menuju rumah dengan tidak menghiraukan segala pertanyaan Didi. Hingga di rumah pun Emak tetap dalam keadaan membisu.
            Dengan keadaan seperti ini, bagi Didi adalah hal yang biasa. Dia berpikir nanti sebentar lagi Emak akan bersikap seperti biasa lagi. Didi adalah seorang perayu ibu yang sangat handal, ketika Emak marah besar pun Didi masih bisa menaklukannya. Mungkinkah hal ini terjadi karena Didi adalah anak satu-satunya sehingga kasih sayang yang diberikan begitu besar? Jawabannya itu tidak benar. Tidak dibenarkan jika seorang ibu hanya mendidik dengan penuh kasih sayang, tetapi bukan juga berarti ibu harus bersikap keras terhadap anaknya. Dalam memberikan pendidikan, orangtua adalah orang yang paling berperan didalamnya, sifat dan watak dari seorang anak merupakan cerminan dari keberhasilan orang tua mendidik anaknya. Jika selalu memanjakan anak, tentunya bukanlah hal yang baik. Seorang anak akan merasa manja, sehingga ketika dalam suatu keadaan orangtua tidak dapat memberikan apa yang biasa diberikan kepada anaknya, si anak akan selalu berontak meminta hal tersebut. Seorang anak tidak akan mengerti keadaan lingkungan. Lewat hal tersebut  seorang anak harus diberikan pengertian hal apakah yang harus dilakukan ketika dalam keadaan yang tidak memungkinkan.
            Setelah kejadian yang memalukan itu, Emak kembali seperti biasa. Ini percis seperti pendapat Didi, Didi merayu dengan menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi. Dari mulai ketelatannya pulang ke rumah dan Topan yang datang ke rumah. Saat itu, Didi dan Topan pulang sekolah bersama, ditengah perjalanan mereka menemukan sabut kelapa yang tergeletak. Dengan ide yang datang bagai kilat, mereka mengubah sabut kelapa tersebut menjadi sebuah kapal. Mereka pulang menyisiri aliran sungai kecil dengan kapal yang mereka hanyutkan bersama aliran sungai tersebut. Tetapi ketika di tengah perjalanan kapal Topan tersangkut daun pisang yang jatuh ke sungai, hawa dingin yang selalu datang tiap hari membuat semua orang kedinginan. Akhirnya Topan memutuskan untuk mengambil daun pisang yang menghalangi kapalnya. Sungai yang dangkal memudahkan Topan untuk mengambilnya.
            Didi berjalan meninggalkan Topan yang sedang mengambil daun pisang tersebut dengan  mengikuti kapalnya. Kejadian yang tidak terduga menimpa Topan, dia terpeleset saat tangannya hampir mengenai daun pisang yang melintang itu, sehingga ia masuk ke dalam sungai sampai basah kuyup. Saat ia telah kembali berjalan dia menemukan kapal Didi yang tersangkut, kali ini dia tidak berani mengambilnya karena pada bagian ini kedalamannya lumayan dalam untuk anak seumuran SD. Tapi sama sekali dia tidak melihat Didi disini, ia kira Didi akan terus mengikuti kapalnya, tetapi saat kapalnya tersangkut kemanakah Didi? Topan kebingungan dan takut ada suatu hal yang terjadi dengan Didi. Tanpa berpikir panjang dia bergegas memberitahu Emak Siti, Topan berlari sangat kencang. Sehingga saat memberitahu Emak Siti napasnya tersengal-sengal. Topan tidak mengetahui bahwa Emak Siti akan sesegera mungkin mencari Didi yang belum pulang tanpa mendengar penjelasannya. Ketika Emak telah ke tepi sungai, Didi datang dengan muka yang sumringah. Didi menceritakan bagaimana dia bisa pulang telat. Didi mempunyai alasan bahwa dirinya tidak bersama dengan Topan karenan pada saat kapalnya tersangkut, dia bergegas mengikuti kadal dengan warna unik lewat di hadapannya. Didi mencarinya hingga ke pojok sawah, tetapi dia tidak menemukannya. Setelah itu, dia memutuskan untuk menyusul Topan, tetapi saat dia kembali ke tempat semula dia tidak menemukan batang hidung Topan, tanpa berpikir panjang Didi langsung menuju rumah dan didapati Topan yang berdiri di depan rumahnya sambil kedinginan.
            Sungguh aneh memang kejadian ini, Didi merasa bersalah kepada Emak Siti, Didi berjanji tidak akan mengulangi hal ini lagi. Didi sering kali pulang telat ke rumah tetapi tidak sampai terlalu sore, kejadian tersebut membuat Didi jera. Didi sangat sayang terhadap Emaknya, Emak bagi Didi adalah seseorang yang paling penting, walaupun Didi terkenal dengan malasnya ke sekolah, tetapi bakti Didi kepada Emak tidak pernah ketinggalan. Emak yang berjualan serabi setiap pagi selalu dibantu oleh Didi, itulah sebabnya Didi selalu bangun siang karena sehabis membantu Emaknya membuat serabi Didi tidur kembali. Didi selalu mengedapankan kepentingan Emaknya, terkadang Didi rela tidak mengerjakan tugas sekolah karena membantu Emaknya, walaupun Emak telah melarangnya tetapi Didi bersikeras membantu Emaknya. Wataknya memang keras kepala, susah diatur, hanya ingin menang sendiri. Berkali-kali Emak menasihati Didi agar tidak malas sekolah, tetapi Didi tetap saja tidak berubah, akhirnya Emak membiarkannya, Emak berpikir yang terpenting adalah Didi berakhlak baik.
            Setiap orang tua mempunyai cara tersendiri dalam mendidik anaknya, tidak ada orang tua yang membiarkan anaknya terjerumus kepada keburukan. Emak mendidik Didi dengan cara membebaskan apa yang diinginkan oleh Didi, yang terpenting Didi tidak mengikuti pergaulan yang tidak benar. Lingkungan pedesaan yang masih alami, jarang sekali tersentuh oleh pergaulan seperti di kota. Jarang sekali terlihat anak yang nongkrong dengan menggenggam android ditangan. Di desa tempat Didi tinggal, anak-anak desa masih aktif bermain bersama. Setiap pulang sekolah Didi bermain bersama teman-teman di lapangan, ketika musim angin tiba banyak layangan yang cantik bertebaran di atas langit. Saling berlomba ketinggian satu sama lain, selain itu masih ada permainan tradisional yang dimainkan seperti enggrang, petak umpet, dan bebentengan.
            Adat istiadat Sunda di desa ini masih sangat terjaga. Orang sunda yang terkenal denga keluguannya tercover semua di desa ini. Desa yang sangat asri, dengan orang-orang yang ramah tamah membuat damai desa ini. Mereka buka tidak kenal dengan modern, mereka kenal, tetapi tidak menjadikan kemodern merajai mereka. Orang-orang di desa ini disamping dengan kekentalan budayanya juga kental dengan agama. Mereka menomor satuka agama dalam setiap hal. Semua penduduk desa ini beragama islam, mereka menjalankan seluruh syariat agama. Tidak ada pelanggaran norma apapun disini. Mereka hidup saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
            Kegiatan keagamaan merupakan hal yang tidak terpisahkan dari desa ini. Mereka menanamkan nilai keagamaan kepada anak-anak desa dengan cara mengajari mereka pengetahuan agama Islam. Setiap sore hari, anak-anak berbondong-bondong menuju masjid untuk mengaji. Sungguh pemandangan yang sangat indah sore hari ini. Anak-anak bersemangat untuk menuntut ilmu Al-qur’an. Mereka berlari-lari kecil menuju masjid. Dengan berseri-seri anak perempuan memakai kerudung warna-warni yang membuat wajah mereka terlihat cantik, anak laki-laki juga seperti itu, memakai peci dengan rapi dan berjalan lugu penuh cahaya ketengan di wajahnya. Didi bersama teman-temannya pun tidak pernah ketinggalan untuk pergi mengaji di sore hari. Di masjid bersama Pak Ustadz mereka belajar berbagai hal yang berkaitan dengan agama. Dan mereka pun mengahafal sedikit demi sedikit surat-surat Al-qur’an serta do’a sehari-hari. Anak-anak desa ini sungguh beruntung, di desa yang mereka tinggali banyak yang mengajari pengetahuan agama islam. Sehingga di masa kecil mereka mendapatkan hal yang paling mulia yaitu pelajaran tentang Al-qur’an. Mereka juga menghafal surat-surat Al-qur’an, hadits Rasulullah, nama-nama Nabi dan Rasul serta pengetahuan lainnya.
            Ustadz Alwan adalah seorang ustadz pribumi asal desa ini, beliau pergi menuntut ilmu ke luar daerah ketika masih muda. Ketika beliau telah cukup ilmu, beliau kembali ke desa untuk memberikan ilmunya kepada orang-orang desa, teritama anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Ustadz Alwan mengajar tanpa pamrih, tidak ada patokan bayaran sedikitpun bagi anak-anak desa yang mengaji. Dengan ikhlas Ustadz Alwan memberikan ilmunya kepada orang-orang di desa.
            Didi adalah salah satu penggemar ustadz Alwan, hal itulah yang membuat Didi tidak pernah absen untuk mengaji. Rajin Didi pergi ke sekolah dengan pergi ke Masjid berbeda jauh, Didi dalam satu minggu pergi ke sekolah pasti selalu ada absennya, tetapi di absen ngaji Didi nyaris tidak mengotori buku absen di Masjid. Didi berpikir bahwa ngaji adalah hal yang penting, apalagi kesukaannya kepada ustadz Alwan ketika mengajar membuatnya tidak pernah ingin bolos. Didi sangat paham betul terhadap apa yang diajarkan oleh Ustadz Alwan, bahkan Didi merupakan salah satu murid yang pandai di Mushola itu.
            Suatu hari, Ustadz Alwan tidak dapat hadir di Mushola, jama’ah masjid mendapatkan kabar bahwa ustadz Alwan sedang sakit. Hal ini membuat anak-anak Desa merasa sedih, mereka bingung siapa yang akan memberikan pelajaran malam ini. Maklum lah anak-anak, naluri mereka yang senang bermain pun akhirnya muncul. Anak-anak di masjid membuat kegaduhan, berlarian kesana kemari. Didi tidak tahan mendengar kegaduhan tersebut, akhirnya Didi memutuskan untuk menjadi pengganti pak ustadz malam ini. Didi menghentikan kegaduhan yang terjadi. Setelah kegaduhan terhenti, Didi maju ke depan dan menyeru kepada anak-anak untuk muroja’ah (mengulang)  hafalan Al-qur’an. Anak-anak di masjid menurut, Didi dan Topan adalah anak yang paling tua umurnya dibanding dengan anak-anak masjid lainnya, jadi wajar ketika Didi menyuruh, mereka langsung menurut. Muroja’ah pun berlangsung sampai menjelang isya. Waktu belajar mengaji anak-anak di masjid dimulai dari setelah maghrib hingga menjelang isya, dan jika ada pelajaran tambahan maka dilanjutkan setelah isya.
            Didi dan Topan pulang bersama,ketika sampai di rumah, Didi menceritakan kepada Emak bahwa tadi Ustadz Alwan tidak datang ke masjid dan menceritakan apa yang terjadi kepada anak-anak masjid ketika mereka gaduh. Di dalam hati Emak sangat senang mendengar Didi yang bersikap tanggung jawab. Itulah yang diharapkan Emak dari anak tunggalnya itu. Apalagi Didi adalah seorang anak laki-laki, laki-laki jika nanti dewasa akan ditagih menjadi seorang yang bertanggung jawab. Emak mengaharapkan Didi menjadi seperti Abahnya, bertanggung jawab.

3 komentar:

  1. Membekas terus logat sundanya, sukak, banyak pelajaran yg bisa didapat juga, lanjutkan kak 😁

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Lah beneran bikinnya tentang tanah sunda 😂 bagus mba, terus berkarya yaaa!

    BalasHapus