Sabtu, 02 Maret 2019

Novel Chapter 2


Mutiara “DD” DARI SUNDA

2.    Qiro’at?
          Aliran sungai yang jernih mengikuti langkah Didi pulang sekolah di tengah terik matahari. Dia merasa sangat haus, Topan yang mengikuti jejaknya di belakangnya pun sama kehausan. Sangat panas cuaca hari ini. Mereka melangkah dengan cepat menuju ke rumahnya, tak tahan rasanya bila mereka lama-lama di luar rumah. Agenda bermain pun mereka batalkan karena cuaca yang tidak mendukung. Tugas sekolah yang menumpuk tidak menjadi masalah bagi dua sejoli ini, mereka sudah kebal terhadap amarah guru di sekolah. Memang bukan perbuatan seorang siswa jika begini, entah sampai kapan mereka akan terus seperti ini. Amarah guru dan orang tua adalah makanan sehari-hari mereka.
            Setiba Didi didepan rumah, terlihat sandal yang lain ada di teras depan rumahnya. Sandal itu asing bagi Didi, setahu Didi Emak tidak mungkin memiliki sandal lain sebelum sandal lama rusak. Didi mengira bahwa ada tetangga yang sedang berkunjung ke rumahnya. Ketika hendak memasuki pintu, Didi mendengar suara yang tidak asing di telinga Didi. Suara yang kurang lebih satu tahan lamanya Didi rindukan. Semakin Didi mendekati pintu semakin bergetar hati Didi mendengar suara itu.
            “Assalamualaikum.”
Pandangan yang seketika itu membuat hati Didi bangun, membuat guratan gembira di wajahnya. Sang Abah yang ada di hadapannya bagaikan mimpi. Didi langsung memeluknya dengan erat. Sampai tetes air mata jatuh di pipinya. Kehadiran sang Abah begitu sangat dinantikan oleh Didi dan Emak Siti. Bagaimana tidak, Abah hanya pulang setahun sekali ke rumah. Abah bekerja sebagai pelaut, dia bekerja sebagai awak kapal pengangkut barang yang pergi keluar masuk Indonesia. Hal itu membuatnya susah untuk membuatnya sering bertemu dengan anak dan istrinya. Mereka benar-benar merasakan kebahagiaan pada hari itu.
            Bulan ini Didi membuat banyak rencana, yang mana rencana itu semuanya dilakukan di dalam rumah. Tidak banyak keluar rumah, begitu kata Didi. Kepulangan Abah membawa banyak cerita, baik suka maupun duka. Didi terus menerus menanyakan banyak hal pada Abahnya. Dia ternyata tidak mengetahui bahwa musibah telah menimpa Abahnya. Emak yang tahu akan hal itu menyembunyikannya dari Didi dengan alasan agar Didi tidak merasa khawatir. Musibah telah menimpa Abah ketika Abah sedang berlayar di perairan Kalimantan menuju Malaysia. Abah terhantam ombak besar, sehingga meluluh lantahkan kapal hingga tidak ada yang tersisa, ombak besar menimpa ketika air mengalami pasang. Tidak ada prediksi apapun sebelumnya, memang musibah itu tidak ada ang tahu. Didi dan Emak sangat bersyukur karena Abah selamat dari musibah tersebut. Walaupun Abah sempat terombang-ambing di tengah lautan.
            “ Alhamdulillah, Di. Abah selamatdari musibah itu. Kau tahu? Abah terombang-ambing di tengah lautan hanya dengan modal bongkahan kapal yang terapung. Abah bersama empat orang teman Abah sudah putus asa ketika itu, tapi kami masih terus berharap kepada Allah, semoga Allah memberikan pertolongannya. Selama 4 jam Abah mengapung di atas air, Alhamdulillah ada kapal TNI AL yang sedang patroli melewati daerah  itu. Abah dan teman-teman Abah cepat ditangani oleh mereka, Alhamdulillah.”
Dengan logat Kalimantan Abah berbicara. Ya, Abah Didi berasal dari Kalimantan, ketika kebetulan Abah Didi sedang berlabuh di Pelabuhan Merak, Banten, Abah bertemu dengan Emak Siti yang sedang berdagang di area pelabuhan. Akhirnya mereka menikah, dan Abah Didi tinggal di kampung halaman Emak Siti, Sumedang.
Didi merasa sangat sedih dengan kejadian yang menimpa Abahnya. Dia bersyukur Abahnya masih diberi keselamatan, Didi sangat merasa sedih membayangkan jika Abahnya meninggal atas musibah itu. Didi merasa sangat kecewa dengan yang dilakukan oleh dirinya. Didi bermalas-malasan disini sedangkan Abahnya berjuang di tengah lautan untuk membiayai kehidupan Didi, untuk membiayai sekolahnya dan segala keperluannya.
Sore hari tiba, sore ini Didi pergi ke Masjid bersama Abah, Didi sangat senang karena hal ini jarang sekali terjadi. Didi memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Didi ingin memperlihatkan pada Abahnya bahwa dia rajin mengaji. Sore ini, Ustadz Alwan membuat jadwal mengaji baru di Masjid, yaitu jadwal mengaji qiro’at. Hal ini membuat santri di Masjid Darussalam terheran-heran dengan kata “ Qiro’at”. Ustadz Alwan menjelaskan kepada para santri tentang apa itu Qiro’at.
“ Qiro’at yaitu suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membaca Al-qur’an dengan memakai lagu. Ada berbagai macam nada yang digunakan. Ada nada rendah, sedang dan nada tinggi. Nanti ustadz setiap malam sabtu akan mengajarkan kepada kalian bagaimana cara mengaji qiro’at.”
Santri hanya mengangguk, Ustadz Alwan memberikan penjelasan awal dan mencontohkannya dari dasar. Dengan sabar Ustadz Alwan mengulang-ngulang bacaan dengan lagu sampai para santri benar-benar bisa. Di mulai dengan bacaan,
“Bismillaahirrohmaanirrohiim.”
Dengan kompak para santri meniru bacaan Ustadz Alwan, beliau mengulang-ulang  bacaannya sampai bacaan para santri sama persis lagunya dengan lagu yang diberikan olehnya. Para santri di Masjid Darussalam ini pandai-pandai, dengan cepat mereka dapat menyerap ilmu yang diberikan oleh Ustadz Alwan. Ustadz Alwan meminta satu per satu santri untuk membacanya. Lalu sampai kepada Didi yang kebagian giliran selanjutnya, dengan gematar Didi mencobanya. Didi memang tidak terlalu biasa untuk menunjukkan kemampuannya di depan umum, sehingga ketika gilirannya, dia merasa sangat gemetar. Ustadz Alwan melihat ekspresi Didi yang tegang.
            “ Didi teu kenging tegang, ieu teh latihan,” ucap Ustadz Alwan ketika melihat ekspresi Didi.
            Didi hanya mengangguk dan mulai membuka mulutnya, sebelum itu Didi melihat ke arah Abah, Abah tersenyum seolah-olah memberikan semangat kepada Didi. Didi dengan menguatkan hati mencobanya. Dan akhirnya Didi bisa dan terdengar sangat merdu suaranya, semua mata para santri melongo dengan suara Didi. Didi sendiri heran dengan suaranya, dia merasa apakah betul ini suaranya. Didi merasa tidak percaya dengan hal ini. Tetapi Didi sangat senang bisa membuat Abah tersenyum. Adzan isya berkumandang, jama’ah sholat dengan diimami Ustadz Alwan dengan suara merdunya membuat sholat semakin khusyu.
            “ Abah, tadi Didi teh ngajinya bagus nggak?”, ucap Didi.
            “ Uh, bagus sekali, nak. Teruskan ngajinya ya, Abah dengar banyak yang mengadakan lomba qiro’at. Siapa tahu kamu bisa mengikuti lomba tersebut.”
Didi terkejut mendengar ucapan Abahnya tersebut, dia berpikir seketika apakah dia berbakat sebagai qori’? tetapi pikiran tersebut ditepis olehnya, dia menganggap itu hanya sebagai khayalan angin.
Didi dan Abahnya pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan mereka bercakap-cakap, tanpa disadari sampailah mereka dirumah. Emak telah menyediakan hidangan makan malam untuk mereka, pepes tahu, ikan nila goreng dan sambal terasi menambah nikmat kebersamaan mereka. Kedatangan Abah menambah melengkapi kebahagiaan keluarga mereka. Didi merasa sangat hangat dengan kebersamaan ini. Setelah makan, abah menanyai Didi tentang sekolahnya. Abah sebenarnya tahu akan keadaan sekolah Didi. Abah sangat perhatian terhadap pendidika, pendidikan Abah lebih tinggi dibandingkan dengan  Emak, jadi Abah lebih mengerti dibandingkan Emak.
            Didi hanya terdiam ketika Abah bertanya, dan secara kebetulan Didi menguap, sesegera mungkin Didi pamit kepada Abah dan Emak untuk tidur. Abah memakluminya sikap Didi yang seperti ini. Abah membiarkannya, pasti suatu saat Didi akan sadar terhadap kewajibannya. Emak bercaka-cakap dengan Abah mengenai perkembangan Didi, Emak mengadukan segala yang terjadi selama Abah tidak di rumah.
            Di dalam kamar Didi termenung, dia memikirkan musibah yang menimpa Abahnya, pikiran Didi masih sama seperti anak kelas 5 SD lainnya. Didi mulai membuka bukunya, dia baru ingat ternyata besok ada tugas. Didi segera mengerjakan dengan sebisanya. Didi berpikir jika dia rajin, maka Abah akan senang. Didi merasa kesulitan ketika mengerjakan tugas dari bu guru, Didi baru merasa akibat dari ketidak seriusannya ketika belajar di sekolah.
            Matahari terbit dari ufuk timur, kokok ayam dan kicauan burung saling bersautan, Emak yang sudah siap mendagangkan serabi pamit kepada Abah, tiba-tiba Didi datang keluar rumah mencium tangan Emak dan Abah untuk pamit berangkat sekolah. Melihat kejadian ini, Emak terkejut tanpa berkata apa-apa, hanya dengan tersenyum Emak dan Abah melepas Didi untuk berangkat sekolah. Pagi sekali Didi datang ke kelas, kelas masih sangat sepi, hanya ada bangku kosong berjajar disampingnya. Setelah sekian lama, baru banyak teman-temannya yang datnag ke sekolah, mereka terkejut ketika melihat Didi berangkat paling awal dianatara murid lainnya.
            “silahkan kumpulkan tugas yang kemarin Ibu berikan,” ucap bu guru.
Seluruh murid maju ke depan untuk mengumpulkan tugas, termasuk Didi.
            “ Didi kamu juga mengumpulkan?”, ucap bu guru.
Didi hanya membalas dengan senyuman ucapan bu guru tersebut. Dalam hati Didi, dia merasa bahwa menjadi rajin itu adalah hal yang sulit. Didi melakukan ini semata-mata hanya untuk menyenangkan Abahnya yang sedang di rumah. Topan pun ikut-ikutan rajin seperti Didi, teman-teman kelasnya pun merasa heran dengan kelakuan dua sejoli ini.
            Sepulang sekolah, seperti biasa Didi dan Topan pulang bersama, menyusuri sungai yang mengalir jernih. Tiba-tiba pandangan mereka teralih kepada kerumunan anak-anak desa di sawah. Didi dan Topan segera bergegas menuju kermunan itu, ketika sampai disana, tak salah dugaan mereka, anak-anak tersebut sedang berburu tutut, Didi dan Topan ikut dalm kerumanan dengan memakai baju merah putih mereka turun ke sawah dengan tanah yang basah. Sangat puas mereka mencari tutut. Tutut adalah sejenis keong kecil yang biasa ada di sawah. Tetapi bukan tutut yang mereka dapat, baju yang kotor yang mereka dapat. Ketika mereka asyik bermain di sawah. Tiba-tiba terdengar teriakan,
            “ Hayo maraneh, keur naon ngarobe di sawah? Balik!”
Tak disangka pemilik sawah yang baru saja ditanami bibit itu datang dan memarahi mereka. Bagaimana tidak, bibit yang baru saja ditanam diinjak-injak oleh anak-anak, termasuk Didi dan Topan. Secepat mungkin mereka lari seperti dikejar anjing. Tak menghiraukan rumput yang berduri serta jalanan yang rumpil. Mereka terabas semua demi hilangnya jejak mereka dari penglihatan pemilik sawah.
            Sesampainya di rumah, Didi tidak melihat Abah maupun Emaknya, Didi hanya melihat keranjang jualan Emak yang tergeletak di dapur. Didi segera mengganti baju karena takut Emak marah kepadanya. Didi langsung pergi bermain kembali hingga sore hari. Sepulangnya Didi dari bermain, dia lupa akan baju kotor yang dia tinggalkan di rumah. Sesampainya di depan pintu, dia melihat Emak yang sedang mencuci baju, dia baru teringat akan baju kotor yang dia taruh di kamar mandi.
            “ Didi, tos timana? Ieu baju kotor pisan?! Tadi Ceu Enjun kadieu ngalaporkeun Didi cenah tos maen ti sawah ngarusak bibit nu karek ditanem? Naha bener kitu?!” ucap Emak dengan nada yang kesal.
            “ Iya Emak, tadi Didi teh pulang sakola ka sawah sareng Topan, hampura Didi, Mak?”
            “ Kahade Didi ulah arek diulang deui eta kajadian teh, karunya Ceu Enjun, bibitna rusak, ari Didi teh kasian nggak ka Emak jeung Abah? Kalau kasihan mah atuh ulah erek nakal bae!”
Emak kesal dengan tingkah laku Didi, Emak langsung keluar untuk menjemur pakaian dengan raut muka yang marah. Didi hanya bisa diam ketika terkena marah Emaknya. Sedangkan Abah saat itu sedang tidak ada, Abah sedang keliling kampung sialturahmi dengan tetangga. Didi berangkat mengaji lebih awal, dia ingat sekarang adalah jadwal untuk mengaji Qiro’at. Didi bersiap dan segera menuju Masjid.
            Sesampainya dia di Masjid, Didi bertemu dan mencium tangan Ustadz Alwan yang sudah datang lebih dahulu. Didi membantu Ustadz Alwan membersihkan masjid hingga selesai saat adzan Maghrib. Setelah adzan maghrib, para santri mulai belajar kembali qiro’at menuju tingkat selanjutnya. Dengan kesabaran Ustadz Alwan, para santri akhirnya bisa mengaji dengan Qiro’at.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar