Mutiara “DD” DARI SUNDA
2.
Qiro’at?
Aliran sungai yang jernih mengikuti langkah
Didi pulang sekolah di tengah terik matahari. Dia merasa sangat haus, Topan
yang mengikuti jejaknya di belakangnya pun sama kehausan. Sangat panas cuaca
hari ini. Mereka melangkah dengan cepat menuju ke rumahnya, tak tahan rasanya
bila mereka lama-lama di luar rumah. Agenda bermain pun mereka batalkan karena
cuaca yang tidak mendukung. Tugas sekolah yang menumpuk tidak menjadi masalah
bagi dua sejoli ini, mereka sudah kebal terhadap amarah guru di sekolah. Memang
bukan perbuatan seorang siswa jika begini, entah sampai kapan mereka akan terus
seperti ini. Amarah guru dan orang tua adalah makanan sehari-hari mereka.
Setiba Didi didepan rumah, terlihat sandal yang lain ada
di teras depan rumahnya. Sandal itu asing bagi Didi, setahu Didi Emak tidak
mungkin memiliki sandal lain sebelum sandal lama rusak. Didi mengira bahwa ada
tetangga yang sedang berkunjung ke rumahnya. Ketika hendak memasuki pintu, Didi
mendengar suara yang tidak asing di telinga Didi. Suara yang kurang lebih satu
tahan lamanya Didi rindukan. Semakin Didi mendekati pintu semakin bergetar hati
Didi mendengar suara itu.
“Assalamualaikum.”
Pandangan yang seketika
itu membuat hati Didi bangun, membuat guratan gembira di wajahnya. Sang Abah
yang ada di hadapannya bagaikan mimpi. Didi langsung memeluknya dengan erat.
Sampai tetes air mata jatuh di pipinya. Kehadiran sang Abah begitu sangat
dinantikan oleh Didi dan Emak Siti. Bagaimana tidak, Abah hanya pulang setahun
sekali ke rumah. Abah bekerja sebagai pelaut, dia bekerja sebagai awak kapal
pengangkut barang yang pergi keluar masuk Indonesia. Hal itu membuatnya susah
untuk membuatnya sering bertemu dengan anak dan istrinya. Mereka benar-benar
merasakan kebahagiaan pada hari itu.
Bulan ini Didi membuat banyak rencana, yang mana rencana
itu semuanya dilakukan di dalam rumah. Tidak banyak keluar rumah, begitu kata
Didi. Kepulangan Abah membawa banyak cerita, baik suka maupun duka. Didi terus
menerus menanyakan banyak hal pada Abahnya. Dia ternyata tidak mengetahui bahwa
musibah telah menimpa Abahnya. Emak yang tahu akan hal itu menyembunyikannya
dari Didi dengan alasan agar Didi tidak merasa khawatir. Musibah telah menimpa
Abah ketika Abah sedang berlayar di perairan Kalimantan menuju Malaysia. Abah
terhantam ombak besar, sehingga meluluh lantahkan kapal hingga tidak ada yang
tersisa, ombak besar menimpa ketika air mengalami pasang. Tidak ada prediksi
apapun sebelumnya, memang musibah itu tidak ada ang tahu. Didi dan Emak sangat
bersyukur karena Abah selamat dari musibah tersebut. Walaupun Abah sempat
terombang-ambing di tengah lautan.
“ Alhamdulillah, Di. Abah selamatdari musibah itu. Kau
tahu? Abah terombang-ambing di tengah lautan hanya dengan modal bongkahan kapal
yang terapung. Abah bersama empat orang teman Abah sudah putus asa ketika itu,
tapi kami masih terus berharap kepada Allah, semoga Allah memberikan
pertolongannya. Selama 4 jam Abah mengapung di atas air, Alhamdulillah ada
kapal TNI AL yang sedang patroli melewati daerah itu. Abah dan teman-teman Abah cepat
ditangani oleh mereka, Alhamdulillah.”
Dengan
logat Kalimantan Abah berbicara. Ya, Abah Didi berasal dari Kalimantan, ketika
kebetulan Abah Didi sedang berlabuh di Pelabuhan Merak, Banten, Abah bertemu
dengan Emak Siti yang sedang berdagang di area pelabuhan. Akhirnya mereka
menikah, dan Abah Didi tinggal di kampung halaman Emak Siti, Sumedang.
Didi
merasa sangat sedih dengan kejadian yang menimpa Abahnya. Dia bersyukur Abahnya
masih diberi keselamatan, Didi sangat merasa sedih membayangkan jika Abahnya
meninggal atas musibah itu. Didi merasa sangat kecewa dengan yang dilakukan
oleh dirinya. Didi bermalas-malasan disini sedangkan Abahnya berjuang di tengah
lautan untuk membiayai kehidupan Didi, untuk membiayai sekolahnya dan segala
keperluannya.
Sore
hari tiba, sore ini Didi pergi ke Masjid bersama Abah, Didi sangat senang
karena hal ini jarang sekali terjadi. Didi memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Didi ingin memperlihatkan pada Abahnya bahwa dia rajin mengaji. Sore ini,
Ustadz Alwan membuat jadwal mengaji baru di Masjid, yaitu jadwal mengaji
qiro’at. Hal ini membuat santri di Masjid Darussalam terheran-heran dengan kata
“ Qiro’at”. Ustadz Alwan menjelaskan kepada para santri tentang apa itu
Qiro’at.
“
Qiro’at yaitu suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membaca Al-qur’an
dengan memakai lagu. Ada berbagai macam nada yang digunakan. Ada nada rendah,
sedang dan nada tinggi. Nanti ustadz setiap malam sabtu akan mengajarkan kepada
kalian bagaimana cara mengaji qiro’at.”
Santri
hanya mengangguk, Ustadz Alwan memberikan penjelasan awal dan mencontohkannya
dari dasar. Dengan sabar Ustadz Alwan mengulang-ngulang bacaan dengan lagu
sampai para santri benar-benar bisa. Di mulai dengan bacaan,
“Bismillaahirrohmaanirrohiim.”
Dengan kompak para santri
meniru bacaan Ustadz Alwan, beliau mengulang-ulang bacaannya sampai bacaan para santri sama
persis lagunya dengan lagu yang diberikan olehnya. Para santri di Masjid
Darussalam ini pandai-pandai, dengan cepat mereka dapat menyerap ilmu yang
diberikan oleh Ustadz Alwan. Ustadz Alwan meminta satu per satu santri untuk
membacanya. Lalu sampai kepada Didi yang kebagian giliran selanjutnya, dengan
gematar Didi mencobanya. Didi memang tidak terlalu biasa untuk menunjukkan
kemampuannya di depan umum, sehingga ketika gilirannya, dia merasa sangat
gemetar. Ustadz Alwan melihat ekspresi Didi yang tegang.
“ Didi teu kenging tegang, ieu teh latihan,” ucap Ustadz
Alwan ketika melihat ekspresi Didi.
Didi hanya mengangguk dan mulai membuka mulutnya, sebelum
itu Didi melihat ke arah Abah, Abah tersenyum seolah-olah memberikan semangat
kepada Didi. Didi dengan menguatkan hati mencobanya. Dan akhirnya Didi bisa dan
terdengar sangat merdu suaranya, semua mata para santri melongo dengan suara
Didi. Didi sendiri heran dengan suaranya, dia merasa apakah betul ini suaranya.
Didi merasa tidak percaya dengan hal ini. Tetapi Didi sangat senang bisa
membuat Abah tersenyum. Adzan isya berkumandang, jama’ah sholat dengan diimami
Ustadz Alwan dengan suara merdunya membuat sholat semakin khusyu.
“ Abah, tadi Didi teh ngajinya bagus nggak?”, ucap Didi.
“ Uh, bagus sekali, nak. Teruskan ngajinya ya, Abah
dengar banyak yang mengadakan lomba qiro’at. Siapa tahu kamu bisa mengikuti
lomba tersebut.”
Didi terkejut mendengar
ucapan Abahnya tersebut, dia berpikir seketika apakah dia berbakat sebagai
qori’? tetapi pikiran tersebut ditepis olehnya, dia menganggap itu hanya
sebagai khayalan angin.
Didi
dan Abahnya pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan mereka bercakap-cakap, tanpa
disadari sampailah mereka dirumah. Emak telah menyediakan hidangan makan malam
untuk mereka, pepes tahu, ikan nila goreng dan sambal terasi menambah nikmat
kebersamaan mereka. Kedatangan Abah menambah melengkapi kebahagiaan keluarga
mereka. Didi merasa sangat hangat dengan kebersamaan ini. Setelah makan, abah
menanyai Didi tentang sekolahnya. Abah sebenarnya tahu akan keadaan sekolah
Didi. Abah sangat perhatian terhadap pendidika, pendidikan Abah lebih tinggi
dibandingkan dengan Emak, jadi Abah
lebih mengerti dibandingkan Emak.
Didi hanya terdiam ketika Abah bertanya, dan secara
kebetulan Didi menguap, sesegera mungkin Didi pamit kepada Abah dan Emak untuk
tidur. Abah memakluminya sikap Didi yang seperti ini. Abah membiarkannya, pasti
suatu saat Didi akan sadar terhadap kewajibannya. Emak bercaka-cakap dengan
Abah mengenai perkembangan Didi, Emak mengadukan segala yang terjadi selama
Abah tidak di rumah.
Di dalam kamar Didi termenung, dia memikirkan musibah
yang menimpa Abahnya, pikiran Didi masih sama seperti anak kelas 5 SD lainnya.
Didi mulai membuka bukunya, dia baru ingat ternyata besok ada tugas. Didi
segera mengerjakan dengan sebisanya. Didi berpikir jika dia rajin, maka Abah
akan senang. Didi merasa kesulitan ketika mengerjakan tugas dari bu guru, Didi
baru merasa akibat dari ketidak seriusannya ketika belajar di sekolah.
Matahari terbit dari ufuk timur, kokok ayam dan kicauan
burung saling bersautan, Emak yang sudah siap mendagangkan serabi pamit kepada
Abah, tiba-tiba Didi datang keluar rumah mencium tangan Emak dan Abah untuk
pamit berangkat sekolah. Melihat kejadian ini, Emak terkejut tanpa berkata
apa-apa, hanya dengan tersenyum Emak dan Abah melepas Didi untuk berangkat
sekolah. Pagi sekali Didi datang ke kelas, kelas masih sangat sepi, hanya ada
bangku kosong berjajar disampingnya. Setelah sekian lama, baru banyak
teman-temannya yang datnag ke sekolah, mereka terkejut ketika melihat Didi
berangkat paling awal dianatara murid lainnya.
“silahkan kumpulkan tugas yang kemarin Ibu berikan,” ucap
bu guru.
Seluruh murid maju ke
depan untuk mengumpulkan tugas, termasuk Didi.
“ Didi kamu juga mengumpulkan?”, ucap bu guru.
Didi hanya membalas dengan
senyuman ucapan bu guru tersebut. Dalam hati Didi, dia merasa bahwa menjadi
rajin itu adalah hal yang sulit. Didi melakukan ini semata-mata hanya untuk
menyenangkan Abahnya yang sedang di rumah. Topan pun ikut-ikutan rajin seperti
Didi, teman-teman kelasnya pun merasa heran dengan kelakuan dua sejoli ini.
Sepulang sekolah, seperti biasa Didi dan Topan pulang
bersama, menyusuri sungai yang mengalir jernih. Tiba-tiba pandangan mereka
teralih kepada kerumunan anak-anak desa di sawah. Didi dan Topan segera
bergegas menuju kermunan itu, ketika sampai disana, tak salah dugaan mereka,
anak-anak tersebut sedang berburu tutut, Didi dan Topan ikut dalm kerumanan
dengan memakai baju merah putih mereka turun ke sawah dengan tanah yang basah.
Sangat puas mereka mencari tutut. Tutut adalah sejenis keong kecil yang biasa
ada di sawah. Tetapi bukan tutut yang mereka dapat, baju yang kotor yang mereka
dapat. Ketika mereka asyik bermain di sawah. Tiba-tiba terdengar teriakan,
“ Hayo maraneh, keur naon ngarobe di sawah? Balik!”
Tak disangka pemilik sawah
yang baru saja ditanami bibit itu datang dan memarahi mereka. Bagaimana tidak,
bibit yang baru saja ditanam diinjak-injak oleh anak-anak, termasuk Didi dan
Topan. Secepat mungkin mereka lari seperti dikejar anjing. Tak menghiraukan
rumput yang berduri serta jalanan yang rumpil. Mereka terabas semua demi
hilangnya jejak mereka dari penglihatan pemilik sawah.
Sesampainya di rumah, Didi tidak melihat Abah maupun
Emaknya, Didi hanya melihat keranjang jualan Emak yang tergeletak di dapur.
Didi segera mengganti baju karena takut Emak marah kepadanya. Didi langsung
pergi bermain kembali hingga sore hari. Sepulangnya Didi dari bermain, dia lupa
akan baju kotor yang dia tinggalkan di rumah. Sesampainya di depan pintu, dia
melihat Emak yang sedang mencuci baju, dia baru teringat akan baju kotor yang
dia taruh di kamar mandi.
“ Didi, tos timana? Ieu baju kotor pisan?! Tadi Ceu Enjun
kadieu ngalaporkeun Didi cenah tos maen ti sawah ngarusak bibit nu karek
ditanem? Naha bener kitu?!” ucap Emak dengan nada yang kesal.
“ Iya Emak, tadi Didi teh pulang sakola ka sawah sareng
Topan, hampura Didi, Mak?”
“ Kahade Didi ulah arek diulang deui eta kajadian teh,
karunya Ceu Enjun, bibitna rusak, ari Didi teh kasian nggak ka Emak jeung Abah?
Kalau kasihan mah atuh ulah erek nakal bae!”
Emak kesal dengan tingkah
laku Didi, Emak langsung keluar untuk menjemur pakaian dengan raut muka yang
marah. Didi hanya bisa diam ketika terkena marah Emaknya. Sedangkan Abah saat
itu sedang tidak ada, Abah sedang keliling kampung sialturahmi dengan tetangga.
Didi berangkat mengaji lebih awal, dia ingat sekarang adalah jadwal untuk
mengaji Qiro’at. Didi bersiap dan segera menuju Masjid.
Sesampainya dia di Masjid, Didi bertemu dan mencium
tangan Ustadz Alwan yang sudah datang lebih dahulu. Didi membantu Ustadz Alwan
membersihkan masjid hingga selesai saat adzan Maghrib. Setelah adzan maghrib,
para santri mulai belajar kembali qiro’at menuju tingkat selanjutnya. Dengan
kesabaran Ustadz Alwan, para santri akhirnya bisa mengaji dengan Qiro’at.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar