Rabu, 20 Februari 2019

Cerita Pendek Sejarah

RODA KEHIDUPAN

“ Bu, daging ayamnya 1 kilo ya, bagian dadanya saja.”
Ucap ibuku kepada penjual daging ayam di pasar. suasana pasar yang ramai mengiringi munculnya matahari. Lalu lalang orang dengan raut wajah yang berbeda nampak terlihat di wajah setiap orang. Mereka begitu semangat dengan datangnya matahari, mereka sambut matahari itu dengan berbagai macam kesibukan. Begitu pula dengan Ibuku, Ibuku pun memulai kesibukannya di hari ini dengan pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk berdagang. Ya, Ibuku memang sibuk sekali membantu Bapak ku untuk berjualan. Dengan langkah kakinya Ibu menjelajahi pedagang-pedagang di pasar untuk membeli bahan-nahan yang diperlukan. Sedangkan Aku, Aku hanya membuntutinya dari belakang sambil Aku pegang erat tangan Ibu. Aku mengikuti langkah kakinya kemanapun ia pergi. Tidak bisa Aku bayangkan jika tanganku terlepas dari genggaman Ibu, Aku tak tahu apa yang harus Aku lakukan, menangis atau tetap diam menunggu Ibu mencari diriku. Aku kecil yang tak mengerti apa-apa hanya bisa membuntuti Ibu. Akhirnya Ibu telah selesai menjelajahi pasar, dan ini adalah hal yang paling membuat hatiku sangat gembira. Tiba waktu pulang, tiba juga waktuku untuk menaiki delman (dokar).
            Setiap kali Aku menaiki dokar, timbul bayangan bahwa Aku sedang menaiki kereta kerajaan berlapis emas, dengan berjalan pelan mengelilingi kota sambil disambut meriah dengan tepuk tangan. Namun suatu ketika bayanganku pecah ketika tiba-tiba kuda dokar yang Aku tumpangi berdiri. Akupun menjerit ketakutan sambil memeluk erat Ibuku. Seketika Aku tidak ingin lagi naik dokar, tetapi pada akhirnya Aku menaiki kereta kuda kembali.
            “Ibu mau masak dulu ya, nak. Kamu main saja dengan boneka ini.”
            Terasa harum bumbu yang Ibu tumis, hingga Aku merasakan getaran dalam perutku. Tapi Aku sama sekali tak menghiraukan getaran perutku, Aku terlalu asyik mendandani Boneka Barby cantik kesayanganku. Masa kecilku dipenuhi dengan cerita Barby yang Aku buat. Aku telah berkreasi menghasilkan berbagai macam dandanan boneka Barby, mulai dari dandanan pesta, kerja, dan yang paling sering ku lakukan adalah mendandani boneka Barby dengan dandanan pengantin yang bagaikan seorang putri raja yang akan menikah. Usia ku pada saat itu adalah usia anak TK, tetapi Aku tidak mengenyam pendidikan TK. Kedua orangtuaku sangat sibuk bekerja, mereka kelelahan. Tetapi beruntungnya Aku mempunyai seorang Ibu yang sangat baik dan sayang kepadaku. Walaupun kelelahan membantu Bapak berjualan, Ibu sangat memperhatikan perkembanganku. Di tengah-tengah kesibukannya, ia menyempatkan untuk mengajariku membaca, menulis, dan menghitung angka. Walaupun Aku sering nakal, malas untuk belajar Ibu tetap berusaha agar aku mau belajar dengan cara apapun.
            “Ayo sini belajar,kalau kamu tidak belajar Boneka Barby cantik itu akan berubah menyeramkan seperti harimau.”
            Begitulah Ibuku, ancaman seperti itu bagi anak kecil memang terasa menakutkan. Tetapi setelah aku mengerti, Aku merasa konyol dengan ancaman itu. Tapi begitulah seorang Ibu yang melakukan berbagai macam cara untuk membuat supaya Aku belajar. Ibu selalu giat mengajari Aku satu demi satu huruf abjad, huruf hijaiyah, angka dan lainnya. Sehingga Aku merasa belajar adalah sebuah kebiasaan untukku. Bahkan Aku merasa seperti kehilangan sesuatu jika belum belajar dalam satu hari. Bapak selalu memberikan semangat jika Aku sedang belajar, memang Aku tergolong sebagai anak yang manja terlebih kepada Bapak. Terkadang jika Ibu sedang sangat sibuk, Bapak menggantikan posisi Ibu sebagai guru belajarku di rumah. Tetapi Aku merasa bebas jika guru yang mengajariku adalah Bapak, Bapak selalu pengertian dengan keinginanku. Jika Ibu menyuruh menulis sepuluh baris kata “apel” kepadaku, maka Aku pun harus mengerjakan sampai sepuluh baris tanpa melewati satu huruf.  Sedangkan jika dengan Bapak, tiga baris pun Aku diperbolehkan. Mungkin hal ini terjadi karena Bapak tidak tahan dengan rengekan diriku yang meminta untuk segera selesai belajar.
            Lonceng bel berbunyi sebagai tanda waktu pulang telah tiba. Langkahku tergesa-gesa untuk sampai di rumah. 
            “ Cepat sekali kakimu bergerak Fan,” seru Nani kepadaku.
            “ Aku tidak  mau berlama-lama, cuacanya panas sekali. Air minumku habis, Aku haus.”
            Aku  menyusuri jalanan sawah di pinggiran sungai dengan kedua kakiku ini diikuti dengan langkah-langkah kaki yang jauh di belakang.  Aku merasa sangat lelah ketika berjalan pulang sekolah, dengan tepat matahari berada di atas kepala, rasanya Aku ingin minum seluruh air sungai ini untuk memenuhi dahaga. Aku berpikir Ibu akan menyediakan untukku segelas es dengan perisa jeruk yang dilengkapi dengan es batu. Sungguh sangat menyegarkan jika begitu. Namun sangat menyakitkan jika bayanganku itu hanyalah tetap menjadi bayangan.
            Langkah kakiku mengikuti rangsangan dari hidungku, yang telah dibaca oleh otak sebagai bau yang berasal dari minuman yang segar. Setelah sampai rangsangan hidungku pada sumbernya Aku membuka lebar mataku, melihat minuman perisa jeruk yang menyegarkan. Seketika Aku meminumnya sampai habis. Seketika Aku merasa sedang ada di tempat yang sejuk, indah, dan menawan. Selepas pulang sekolah Aku terbiasa menemani Ibu dan Bapak mempersiapkan dagangan untuk dijual disore hari. Terkadang, jika Aku mempunyai PR, Aku sambil bertanya pada Ibu, sungguh itu adalah moment yang paling berkesan. Aku bangga kepada kedua orangtuaku, ditengah kesibukannya, mereka tetap bisa mengajari Aku. Tidak setiap anak akan mendapatkan hal seperti itu, pikirku. Berkat pengajaran dan didikan dari mereka, Aku pun bisa memberikan mereka hadiah kecil setiap enam bulan sekali. Selama Aku duduk dibangku Sekolah Dasar, Aku setiap akhir semester selalu mendapatkan peringkat pertama. Aku bahagia dengan hal itu, karena Aku  bisa membuat kedua orangtuaku bangga terhadapku. Pada saat pembagian raport kelas dua SD, Aku sedang dalam keadaan sakit, sehingga hanya Bapak seorang diri yang mengambil raport. Tetapi hal ini sangat membuatku bahagia, pada saat itu Aku mendapatkan peringkat pertama dan Bapak menerima secara langsung hadiahnya. Saat mendengar hal itu hatiku berbunga-bunga, bagaikan bunga yang bermekaran indah.
            Ramai sekali suasana saat itu, injakan kaki terhadap air sangat jelas. Ramai kanan kiri bagaikan pasar di waktu pagi. Suara kegembiraan anak-anak kelas 6 SD yang belum mengerti apa-apa sangat jelas terdengar di telingaku. Mereka bersuka ria menikmati wahana permainan di salah satu Water Boom. Termasuk diriku, Aku sangat bahagia seperti mereka dan kebahagiaanku bertambah saat dinyatakan lulus dari Sekolah Dasar. Bayangan sekolah baru, guru baru, teman baru, baju seragam baru sudah ada sejak Aku selesai melaksanakan Ujian Nasional. Sekolah Dasar, adalah dasar bagi kita untuk menempuh tahap yang lebih jauh. Candaan dan tawaan masa SD akan selalu terkenang dalam benakku, sedikitpun tak akan hilang dalm ingatanku.
            Ternyata hidup memang selalu berubah disetiap waktunya. Aku pun menjalani masa SMP penuh dengan kebahagiaan juga. Bayangan yang Aku bayangkan terwujud semua disini. Masa SMP memang sangat berbeda dengan SD, ketika SD kita belajar mengeja bacaan, di SMP kita harus mampu membaca. Sama halnya dengan masa SD, namun saat SMP Aku bertambah rajin dalam belajar. Pelajaran-pelajaran yang baru Aku lahap dengan puas, sehingga Aku pun bisa menguasainya. Masa SMP adalah masa yang penuh dengan cerita. Di sana aku menemukan banyak cerita, diantaranya cerita cinta monyet yang marak diperbincangkan. Hal seperti itu lazim, karena pada saat itu adalah masa pubertas. Tetapi untungnya Aku tidak mengikuti zaman cinta monyet, semua teman baik laki-laki ataupun perempuan Aku anggap sama, yaitu hanya sebagai teman.  Banyak hal yang kutemukan saat itu, tapi Aku hanya berpegang pada satu prinsip, yaitu belajar dengan giat agar berhasil.
Sama seperti halnya Aku ketika SD, Aku pun selalu mendapatkan peringkat pertama di SMP, bahkan termasuk dalam juara pararel. Tapi tidak selamanya memang kita berada dalam suatu titik yang sama letaknya. Kita selalu berjalan dari titik yang satu menuju titik yang lain. Hal itu yang Aku alami.
Dug..dug..dug.. jantungku berdegup kencang saat akan dibacakan juara pararel se-sekolah. Aku pun berpikir positif aku akan masuk ke dalam jajaran pararel itu, jantungku semakin berdegup kencang. Tetapi degupan itu hanya menimbulkan luka yang dalam bagiku. Aku pun menangis dalam hati ketika mengetahui tidak terdengar namaku dalam pengumuman tadi. Aku sangat terpukul, berkecamuk di pikiranku tentang apa yang terjadi padaku, Aku memikirkan apa yang salah dalam diriku. Aku pun menangis saat Aku pulang ke rumah, kedua orangtuaku menasihatiku banyak hal. Ada satu kata yang paling menyentuh bagiku.
            “Hidup itu seperti roda,nak. Roda selalu berputar kapan saja dan tidak selalu jatuh dalam titik yang sama. Hidup kita tidak selalu diatas, terkadang kita akan dikembalikan pada titik bawah agar kita bisa tetap berusaha, agar kita tidak terlena dengan kehidupan yang diatas itu.”
            Sungguh haru rasanya hatiku, seketika Aku menyadari arti dari kejadian yang Aku alami. Otakku memutar berulang kali memori yang Aku simpan di dalam otakku. Aku mengingat kembali hal yang Aku alami pada waktu sebelumnya. Aku ingat satu demi satu peristiwa, Aku mengingat kebahagiaanku yang datang setiap akhir semester ketika pengumuman juara diumumkan. Seketika Aku sadar, kita hidup itu tidak selalu ada di posisi teratas, kita juga pasti mengalami kejadian kita berada pada bagian paling bawah dari hidup kita. Kita ditakdirkan setiap waktu itu akan terjadi banyak hal untuk kita. Dengan adanya kejadian itu, Aku sadar bahwa Allah sedang menguji kesabaranku, sejauh mana usahaku untuk menjadi yang terbaik. Dan hal yang paling penting ku lakukan adalah bersabar. Sabar adalah kunci kita untuk menghadapi suatu ujian. Apabila kita berhasil membuka kuncinya kita pasti akan lolos dari ujian itu dan mendapatkan nilai yang baik. Aku pun tetap bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah kepadaku. Karena aku tahu bahwa Allah tidak akan memberi ujian kepada kita melainkan yang sanggup untuk kita jalani.
            Ternyata janji Allah benar terbukti, Aku bisa menjalani ujian tersebut, Aku semakin giat belajar, semakin tekun, belajar dengan senang hati. Keadaan pun pulih kembali, Aku bisa meningkatkan prestasiku. Bahkan Aku mendapatkan pararel pertama di SMP. Aku sangat bersyukur, bahagia rasanya atas apa yang terjadi padaku. Aku akan selalu yakin terhadap nasihat orangtuaku, apapun nasihatnya Aku akan menurutinya. Aku sangat bahagia, di dalam hati Aku berjanji akan selalu giat dalam belajar, Aku ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Aku ingin membuat bangga kedua orangtuaku. Aku ingin terus melihat senyum kebahagiaan dari mereka. Dalam hati terucap ikrar Aku akan menjadi anak yang baik, rajin belajar, tanpa malas-malasan, dan bisa membuat bahagia kedua orangtuaku.
           
           

            

11 komentar: