RODA
KEHIDUPAN
“
Bu, daging ayamnya 1 kilo ya, bagian dadanya saja.”
Ucap
ibuku kepada penjual daging ayam di pasar. suasana pasar yang ramai mengiringi
munculnya matahari. Lalu lalang orang dengan raut wajah yang berbeda nampak
terlihat di wajah setiap orang. Mereka begitu semangat dengan datangnya
matahari, mereka sambut matahari itu dengan berbagai macam kesibukan. Begitu
pula dengan Ibuku, Ibuku pun memulai kesibukannya di hari ini dengan pergi ke
pasar untuk membeli bahan-bahan untuk berdagang. Ya, Ibuku memang sibuk sekali
membantu Bapak ku untuk berjualan. Dengan langkah kakinya Ibu menjelajahi
pedagang-pedagang di pasar untuk membeli bahan-nahan yang diperlukan. Sedangkan
Aku, Aku hanya membuntutinya dari belakang sambil Aku pegang erat tangan Ibu.
Aku mengikuti langkah kakinya kemanapun ia pergi. Tidak bisa Aku bayangkan jika
tanganku terlepas dari genggaman Ibu, Aku tak tahu apa yang harus Aku lakukan,
menangis atau tetap diam menunggu Ibu mencari diriku. Aku kecil yang tak
mengerti apa-apa hanya bisa membuntuti Ibu. Akhirnya Ibu telah selesai
menjelajahi pasar, dan ini adalah hal yang paling membuat hatiku sangat
gembira. Tiba waktu pulang, tiba juga waktuku untuk menaiki delman (dokar).
Setiap kali Aku menaiki dokar,
timbul bayangan bahwa Aku sedang menaiki kereta kerajaan berlapis emas, dengan
berjalan pelan mengelilingi kota sambil disambut meriah dengan tepuk tangan.
Namun suatu ketika bayanganku pecah ketika tiba-tiba kuda dokar yang Aku
tumpangi berdiri. Akupun menjerit ketakutan sambil memeluk erat Ibuku. Seketika
Aku tidak ingin lagi naik dokar, tetapi pada akhirnya Aku menaiki kereta kuda
kembali.
“Ibu mau masak dulu ya, nak. Kamu
main saja dengan boneka ini.”
Terasa harum bumbu yang Ibu tumis,
hingga Aku merasakan getaran dalam perutku. Tapi Aku sama sekali tak
menghiraukan getaran perutku, Aku terlalu asyik mendandani Boneka Barby cantik
kesayanganku. Masa kecilku dipenuhi dengan cerita Barby yang Aku buat. Aku
telah berkreasi menghasilkan berbagai macam dandanan boneka Barby, mulai dari
dandanan pesta, kerja, dan yang paling sering ku lakukan adalah mendandani
boneka Barby dengan dandanan pengantin yang bagaikan seorang putri raja yang
akan menikah. Usia ku pada saat itu adalah usia anak TK, tetapi Aku tidak
mengenyam pendidikan TK. Kedua orangtuaku sangat sibuk bekerja, mereka
kelelahan. Tetapi beruntungnya Aku mempunyai seorang Ibu yang sangat baik dan
sayang kepadaku. Walaupun kelelahan membantu Bapak berjualan, Ibu sangat
memperhatikan perkembanganku. Di tengah-tengah kesibukannya, ia menyempatkan
untuk mengajariku membaca, menulis, dan menghitung angka. Walaupun Aku sering
nakal, malas untuk belajar Ibu tetap berusaha agar aku mau belajar dengan cara
apapun.
“Ayo sini belajar,kalau kamu tidak
belajar Boneka Barby cantik itu akan berubah menyeramkan seperti harimau.”
Begitulah Ibuku, ancaman seperti itu
bagi anak kecil memang terasa menakutkan. Tetapi setelah aku mengerti, Aku
merasa konyol dengan ancaman itu. Tapi begitulah seorang Ibu yang melakukan
berbagai macam cara untuk membuat supaya Aku belajar. Ibu selalu giat mengajari
Aku satu demi satu huruf abjad, huruf hijaiyah, angka dan lainnya. Sehingga Aku
merasa belajar adalah sebuah kebiasaan untukku. Bahkan Aku merasa seperti
kehilangan sesuatu jika belum belajar dalam satu hari. Bapak selalu memberikan
semangat jika Aku sedang belajar, memang Aku tergolong sebagai anak yang manja
terlebih kepada Bapak. Terkadang jika Ibu sedang sangat sibuk, Bapak
menggantikan posisi Ibu sebagai guru belajarku di rumah. Tetapi Aku merasa
bebas jika guru yang mengajariku adalah Bapak, Bapak selalu pengertian dengan
keinginanku. Jika Ibu menyuruh menulis sepuluh baris kata “apel” kepadaku, maka
Aku pun harus mengerjakan sampai sepuluh baris tanpa melewati satu huruf. Sedangkan jika dengan Bapak, tiga baris pun Aku
diperbolehkan. Mungkin hal ini terjadi karena Bapak tidak tahan dengan rengekan
diriku yang meminta untuk segera selesai belajar.
Lonceng bel berbunyi sebagai tanda
waktu pulang telah tiba. Langkahku tergesa-gesa untuk sampai di rumah.
“ Cepat sekali kakimu bergerak Fan,”
seru Nani kepadaku.
“ Aku tidak mau berlama-lama, cuacanya panas sekali. Air
minumku habis, Aku haus.”
Aku
menyusuri jalanan sawah di pinggiran sungai dengan kedua kakiku ini
diikuti dengan langkah-langkah kaki yang jauh di belakang. Aku merasa sangat lelah ketika berjalan
pulang sekolah, dengan tepat matahari berada di atas kepala, rasanya Aku ingin
minum seluruh air sungai ini untuk memenuhi dahaga. Aku berpikir Ibu akan
menyediakan untukku segelas es dengan perisa jeruk yang dilengkapi dengan es
batu. Sungguh sangat menyegarkan jika begitu. Namun sangat menyakitkan jika
bayanganku itu hanyalah tetap menjadi bayangan.
Langkah kakiku mengikuti rangsangan
dari hidungku, yang telah dibaca oleh otak sebagai bau yang berasal dari
minuman yang segar. Setelah sampai rangsangan hidungku pada sumbernya Aku membuka
lebar mataku, melihat minuman perisa jeruk yang menyegarkan. Seketika Aku meminumnya
sampai habis. Seketika Aku merasa sedang ada di tempat yang sejuk, indah, dan
menawan. Selepas pulang sekolah Aku terbiasa menemani Ibu dan Bapak mempersiapkan
dagangan untuk dijual disore hari. Terkadang, jika Aku mempunyai PR, Aku sambil
bertanya pada Ibu, sungguh itu adalah moment
yang paling berkesan. Aku bangga kepada kedua orangtuaku, ditengah kesibukannya,
mereka tetap bisa mengajari Aku. Tidak setiap anak akan mendapatkan hal seperti
itu, pikirku. Berkat pengajaran dan didikan dari mereka, Aku pun bisa
memberikan mereka hadiah kecil setiap enam bulan sekali. Selama Aku duduk
dibangku Sekolah Dasar, Aku setiap akhir semester selalu mendapatkan peringkat
pertama. Aku bahagia dengan hal itu, karena Aku
bisa membuat kedua orangtuaku bangga terhadapku. Pada saat pembagian
raport kelas dua SD, Aku sedang dalam keadaan sakit, sehingga hanya Bapak
seorang diri yang mengambil raport. Tetapi hal ini sangat membuatku bahagia,
pada saat itu Aku mendapatkan peringkat pertama dan Bapak menerima secara
langsung hadiahnya. Saat mendengar hal itu hatiku berbunga-bunga, bagaikan
bunga yang bermekaran indah.
Ramai sekali suasana saat itu,
injakan kaki terhadap air sangat jelas. Ramai kanan kiri bagaikan pasar di
waktu pagi. Suara kegembiraan anak-anak kelas 6 SD yang belum mengerti apa-apa
sangat jelas terdengar di telingaku. Mereka bersuka ria menikmati wahana
permainan di salah satu Water Boom. Termasuk diriku, Aku sangat bahagia seperti
mereka dan kebahagiaanku bertambah saat dinyatakan lulus dari Sekolah Dasar.
Bayangan sekolah baru, guru baru, teman baru, baju seragam baru sudah ada sejak
Aku selesai melaksanakan Ujian Nasional. Sekolah Dasar, adalah dasar bagi kita
untuk menempuh tahap yang lebih jauh. Candaan dan tawaan masa SD akan selalu
terkenang dalam benakku, sedikitpun tak akan hilang dalm ingatanku.
Ternyata hidup memang selalu berubah
disetiap waktunya. Aku pun menjalani masa SMP penuh dengan kebahagiaan juga.
Bayangan yang Aku bayangkan terwujud semua disini. Masa SMP memang sangat
berbeda dengan SD, ketika SD kita belajar mengeja bacaan, di SMP kita harus
mampu membaca. Sama halnya dengan masa SD, namun saat SMP Aku bertambah rajin
dalam belajar. Pelajaran-pelajaran yang baru Aku lahap dengan puas, sehingga Aku
pun bisa menguasainya. Masa SMP adalah masa yang penuh dengan cerita. Di sana
aku menemukan banyak cerita, diantaranya cerita cinta monyet yang marak
diperbincangkan. Hal seperti itu lazim, karena pada saat itu adalah masa
pubertas. Tetapi untungnya Aku tidak mengikuti zaman cinta monyet, semua teman
baik laki-laki ataupun perempuan Aku anggap sama, yaitu hanya sebagai
teman. Banyak hal yang kutemukan saat
itu, tapi Aku hanya berpegang pada satu prinsip, yaitu belajar dengan giat agar
berhasil.
Sama
seperti halnya Aku ketika SD, Aku pun selalu mendapatkan peringkat pertama di
SMP, bahkan termasuk dalam juara pararel. Tapi tidak selamanya memang kita
berada dalam suatu titik yang sama letaknya. Kita selalu berjalan dari titik
yang satu menuju titik yang lain. Hal itu yang Aku alami.
Dug..dug..dug..
jantungku berdegup kencang saat akan dibacakan juara pararel se-sekolah. Aku
pun berpikir positif aku akan masuk ke dalam jajaran pararel itu, jantungku
semakin berdegup kencang. Tetapi degupan itu hanya menimbulkan luka yang dalam
bagiku. Aku pun menangis dalam hati ketika mengetahui tidak terdengar namaku
dalam pengumuman tadi. Aku sangat terpukul, berkecamuk di pikiranku tentang apa
yang terjadi padaku, Aku memikirkan apa yang salah dalam diriku. Aku pun menangis
saat Aku pulang ke rumah, kedua orangtuaku menasihatiku banyak hal. Ada satu kata
yang paling menyentuh bagiku.
“Hidup itu seperti roda,nak. Roda
selalu berputar kapan saja dan tidak selalu jatuh dalam titik yang sama. Hidup
kita tidak selalu diatas, terkadang kita akan dikembalikan pada titik bawah
agar kita bisa tetap berusaha, agar kita tidak terlena dengan kehidupan yang
diatas itu.”
Sungguh haru rasanya hatiku,
seketika Aku menyadari arti dari kejadian yang Aku alami. Otakku memutar
berulang kali memori yang Aku simpan di dalam otakku. Aku mengingat kembali hal
yang Aku alami pada waktu sebelumnya. Aku ingat satu demi satu peristiwa, Aku
mengingat kebahagiaanku yang datang setiap akhir semester ketika pengumuman
juara diumumkan. Seketika Aku sadar, kita hidup itu tidak selalu ada di posisi
teratas, kita juga pasti mengalami kejadian kita berada pada bagian paling
bawah dari hidup kita. Kita ditakdirkan setiap waktu itu akan terjadi banyak
hal untuk kita. Dengan adanya kejadian itu, Aku sadar bahwa Allah sedang
menguji kesabaranku, sejauh mana usahaku untuk menjadi yang terbaik. Dan hal
yang paling penting ku lakukan adalah bersabar. Sabar adalah kunci kita untuk
menghadapi suatu ujian. Apabila kita berhasil membuka kuncinya kita pasti akan
lolos dari ujian itu dan mendapatkan nilai yang baik. Aku pun tetap bersyukur
atas apa yang telah diberikan Allah kepadaku. Karena aku tahu bahwa Allah tidak
akan memberi ujian kepada kita melainkan yang sanggup untuk kita jalani.
Ternyata janji Allah benar terbukti,
Aku bisa menjalani ujian tersebut, Aku semakin giat belajar, semakin tekun,
belajar dengan senang hati. Keadaan pun pulih kembali, Aku bisa meningkatkan
prestasiku. Bahkan Aku mendapatkan pararel pertama di SMP. Aku sangat
bersyukur, bahagia rasanya atas apa yang terjadi padaku. Aku akan selalu yakin
terhadap nasihat orangtuaku, apapun nasihatnya Aku akan menurutinya. Aku sangat
bahagia, di dalam hati Aku berjanji akan selalu giat dalam belajar, Aku ingin
mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Aku ingin membuat bangga kedua orangtuaku.
Aku ingin terus melihat senyum kebahagiaan dari mereka. Dalam hati terucap
ikrar Aku akan menjadi anak yang baik, rajin belajar, tanpa malas-malasan, dan
bisa membuat bahagia kedua orangtuaku.
Bagus. Suka. Semoga bisa lebih baik lagi ya. Sukses terus :)
BalasHapusBgs, lanjutkan:)
BalasHapusBagus ๐
BalasHapusMumtazzzzzzzx♡♡♡♡♡
BalasHapusBagus lanjutkan ๐
BalasHapusBagus lus, kembangkan๐
BalasHapusBagus lus, kembangkan๐
BalasHapusMenarik mba lus๐
BalasHapusBagus, dari pengalaman pribadi bisa dibuat lebih dramatis ๐
BalasHapusBagus, dari pengalaman pribadi bisa dibuat lebih dramatis ๐
BalasHapusBagus mba cuma paragrafnya kurang beraturan ๐
BalasHapus