SALAMUN 'ALAIKUM
Sabtu, 02 Maret 2019
Novel Chapter 2
Mutiara “DD” DARI SUNDA
2.
Qiro’at?
Aliran sungai yang jernih mengikuti langkah
Didi pulang sekolah di tengah terik matahari. Dia merasa sangat haus, Topan
yang mengikuti jejaknya di belakangnya pun sama kehausan. Sangat panas cuaca
hari ini. Mereka melangkah dengan cepat menuju ke rumahnya, tak tahan rasanya
bila mereka lama-lama di luar rumah. Agenda bermain pun mereka batalkan karena
cuaca yang tidak mendukung. Tugas sekolah yang menumpuk tidak menjadi masalah
bagi dua sejoli ini, mereka sudah kebal terhadap amarah guru di sekolah. Memang
bukan perbuatan seorang siswa jika begini, entah sampai kapan mereka akan terus
seperti ini. Amarah guru dan orang tua adalah makanan sehari-hari mereka.
Setiba Didi didepan rumah, terlihat sandal yang lain ada
di teras depan rumahnya. Sandal itu asing bagi Didi, setahu Didi Emak tidak
mungkin memiliki sandal lain sebelum sandal lama rusak. Didi mengira bahwa ada
tetangga yang sedang berkunjung ke rumahnya. Ketika hendak memasuki pintu, Didi
mendengar suara yang tidak asing di telinga Didi. Suara yang kurang lebih satu
tahan lamanya Didi rindukan. Semakin Didi mendekati pintu semakin bergetar hati
Didi mendengar suara itu.
“Assalamualaikum.”
Pandangan yang seketika
itu membuat hati Didi bangun, membuat guratan gembira di wajahnya. Sang Abah
yang ada di hadapannya bagaikan mimpi. Didi langsung memeluknya dengan erat.
Sampai tetes air mata jatuh di pipinya. Kehadiran sang Abah begitu sangat
dinantikan oleh Didi dan Emak Siti. Bagaimana tidak, Abah hanya pulang setahun
sekali ke rumah. Abah bekerja sebagai pelaut, dia bekerja sebagai awak kapal
pengangkut barang yang pergi keluar masuk Indonesia. Hal itu membuatnya susah
untuk membuatnya sering bertemu dengan anak dan istrinya. Mereka benar-benar
merasakan kebahagiaan pada hari itu.
Bulan ini Didi membuat banyak rencana, yang mana rencana
itu semuanya dilakukan di dalam rumah. Tidak banyak keluar rumah, begitu kata
Didi. Kepulangan Abah membawa banyak cerita, baik suka maupun duka. Didi terus
menerus menanyakan banyak hal pada Abahnya. Dia ternyata tidak mengetahui bahwa
musibah telah menimpa Abahnya. Emak yang tahu akan hal itu menyembunyikannya
dari Didi dengan alasan agar Didi tidak merasa khawatir. Musibah telah menimpa
Abah ketika Abah sedang berlayar di perairan Kalimantan menuju Malaysia. Abah
terhantam ombak besar, sehingga meluluh lantahkan kapal hingga tidak ada yang
tersisa, ombak besar menimpa ketika air mengalami pasang. Tidak ada prediksi
apapun sebelumnya, memang musibah itu tidak ada ang tahu. Didi dan Emak sangat
bersyukur karena Abah selamat dari musibah tersebut. Walaupun Abah sempat
terombang-ambing di tengah lautan.
“ Alhamdulillah, Di. Abah selamatdari musibah itu. Kau
tahu? Abah terombang-ambing di tengah lautan hanya dengan modal bongkahan kapal
yang terapung. Abah bersama empat orang teman Abah sudah putus asa ketika itu,
tapi kami masih terus berharap kepada Allah, semoga Allah memberikan
pertolongannya. Selama 4 jam Abah mengapung di atas air, Alhamdulillah ada
kapal TNI AL yang sedang patroli melewati daerah itu. Abah dan teman-teman Abah cepat
ditangani oleh mereka, Alhamdulillah.”
Dengan
logat Kalimantan Abah berbicara. Ya, Abah Didi berasal dari Kalimantan, ketika
kebetulan Abah Didi sedang berlabuh di Pelabuhan Merak, Banten, Abah bertemu
dengan Emak Siti yang sedang berdagang di area pelabuhan. Akhirnya mereka
menikah, dan Abah Didi tinggal di kampung halaman Emak Siti, Sumedang.
Didi
merasa sangat sedih dengan kejadian yang menimpa Abahnya. Dia bersyukur Abahnya
masih diberi keselamatan, Didi sangat merasa sedih membayangkan jika Abahnya
meninggal atas musibah itu. Didi merasa sangat kecewa dengan yang dilakukan
oleh dirinya. Didi bermalas-malasan disini sedangkan Abahnya berjuang di tengah
lautan untuk membiayai kehidupan Didi, untuk membiayai sekolahnya dan segala
keperluannya.
Sore
hari tiba, sore ini Didi pergi ke Masjid bersama Abah, Didi sangat senang
karena hal ini jarang sekali terjadi. Didi memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Didi ingin memperlihatkan pada Abahnya bahwa dia rajin mengaji. Sore ini,
Ustadz Alwan membuat jadwal mengaji baru di Masjid, yaitu jadwal mengaji
qiro’at. Hal ini membuat santri di Masjid Darussalam terheran-heran dengan kata
“ Qiro’at”. Ustadz Alwan menjelaskan kepada para santri tentang apa itu
Qiro’at.
“
Qiro’at yaitu suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membaca Al-qur’an
dengan memakai lagu. Ada berbagai macam nada yang digunakan. Ada nada rendah,
sedang dan nada tinggi. Nanti ustadz setiap malam sabtu akan mengajarkan kepada
kalian bagaimana cara mengaji qiro’at.”
Santri
hanya mengangguk, Ustadz Alwan memberikan penjelasan awal dan mencontohkannya
dari dasar. Dengan sabar Ustadz Alwan mengulang-ngulang bacaan dengan lagu
sampai para santri benar-benar bisa. Di mulai dengan bacaan,
“Bismillaahirrohmaanirrohiim.”
Dengan kompak para santri
meniru bacaan Ustadz Alwan, beliau mengulang-ulang bacaannya sampai bacaan para santri sama
persis lagunya dengan lagu yang diberikan olehnya. Para santri di Masjid
Darussalam ini pandai-pandai, dengan cepat mereka dapat menyerap ilmu yang
diberikan oleh Ustadz Alwan. Ustadz Alwan meminta satu per satu santri untuk
membacanya. Lalu sampai kepada Didi yang kebagian giliran selanjutnya, dengan
gematar Didi mencobanya. Didi memang tidak terlalu biasa untuk menunjukkan
kemampuannya di depan umum, sehingga ketika gilirannya, dia merasa sangat
gemetar. Ustadz Alwan melihat ekspresi Didi yang tegang.
“ Didi teu kenging tegang, ieu teh latihan,” ucap Ustadz
Alwan ketika melihat ekspresi Didi.
Didi hanya mengangguk dan mulai membuka mulutnya, sebelum
itu Didi melihat ke arah Abah, Abah tersenyum seolah-olah memberikan semangat
kepada Didi. Didi dengan menguatkan hati mencobanya. Dan akhirnya Didi bisa dan
terdengar sangat merdu suaranya, semua mata para santri melongo dengan suara
Didi. Didi sendiri heran dengan suaranya, dia merasa apakah betul ini suaranya.
Didi merasa tidak percaya dengan hal ini. Tetapi Didi sangat senang bisa
membuat Abah tersenyum. Adzan isya berkumandang, jama’ah sholat dengan diimami
Ustadz Alwan dengan suara merdunya membuat sholat semakin khusyu.
“ Abah, tadi Didi teh ngajinya bagus nggak?”, ucap Didi.
“ Uh, bagus sekali, nak. Teruskan ngajinya ya, Abah
dengar banyak yang mengadakan lomba qiro’at. Siapa tahu kamu bisa mengikuti
lomba tersebut.”
Didi terkejut mendengar
ucapan Abahnya tersebut, dia berpikir seketika apakah dia berbakat sebagai
qori’? tetapi pikiran tersebut ditepis olehnya, dia menganggap itu hanya
sebagai khayalan angin.
Didi
dan Abahnya pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan mereka bercakap-cakap, tanpa
disadari sampailah mereka dirumah. Emak telah menyediakan hidangan makan malam
untuk mereka, pepes tahu, ikan nila goreng dan sambal terasi menambah nikmat
kebersamaan mereka. Kedatangan Abah menambah melengkapi kebahagiaan keluarga
mereka. Didi merasa sangat hangat dengan kebersamaan ini. Setelah makan, abah
menanyai Didi tentang sekolahnya. Abah sebenarnya tahu akan keadaan sekolah
Didi. Abah sangat perhatian terhadap pendidika, pendidikan Abah lebih tinggi
dibandingkan dengan Emak, jadi Abah
lebih mengerti dibandingkan Emak.
Didi hanya terdiam ketika Abah bertanya, dan secara
kebetulan Didi menguap, sesegera mungkin Didi pamit kepada Abah dan Emak untuk
tidur. Abah memakluminya sikap Didi yang seperti ini. Abah membiarkannya, pasti
suatu saat Didi akan sadar terhadap kewajibannya. Emak bercaka-cakap dengan
Abah mengenai perkembangan Didi, Emak mengadukan segala yang terjadi selama
Abah tidak di rumah.
Di dalam kamar Didi termenung, dia memikirkan musibah
yang menimpa Abahnya, pikiran Didi masih sama seperti anak kelas 5 SD lainnya.
Didi mulai membuka bukunya, dia baru ingat ternyata besok ada tugas. Didi
segera mengerjakan dengan sebisanya. Didi berpikir jika dia rajin, maka Abah
akan senang. Didi merasa kesulitan ketika mengerjakan tugas dari bu guru, Didi
baru merasa akibat dari ketidak seriusannya ketika belajar di sekolah.
Matahari terbit dari ufuk timur, kokok ayam dan kicauan
burung saling bersautan, Emak yang sudah siap mendagangkan serabi pamit kepada
Abah, tiba-tiba Didi datang keluar rumah mencium tangan Emak dan Abah untuk
pamit berangkat sekolah. Melihat kejadian ini, Emak terkejut tanpa berkata
apa-apa, hanya dengan tersenyum Emak dan Abah melepas Didi untuk berangkat
sekolah. Pagi sekali Didi datang ke kelas, kelas masih sangat sepi, hanya ada
bangku kosong berjajar disampingnya. Setelah sekian lama, baru banyak
teman-temannya yang datnag ke sekolah, mereka terkejut ketika melihat Didi
berangkat paling awal dianatara murid lainnya.
“silahkan kumpulkan tugas yang kemarin Ibu berikan,” ucap
bu guru.
Seluruh murid maju ke
depan untuk mengumpulkan tugas, termasuk Didi.
“ Didi kamu juga mengumpulkan?”, ucap bu guru.
Didi hanya membalas dengan
senyuman ucapan bu guru tersebut. Dalam hati Didi, dia merasa bahwa menjadi
rajin itu adalah hal yang sulit. Didi melakukan ini semata-mata hanya untuk
menyenangkan Abahnya yang sedang di rumah. Topan pun ikut-ikutan rajin seperti
Didi, teman-teman kelasnya pun merasa heran dengan kelakuan dua sejoli ini.
Sepulang sekolah, seperti biasa Didi dan Topan pulang
bersama, menyusuri sungai yang mengalir jernih. Tiba-tiba pandangan mereka
teralih kepada kerumunan anak-anak desa di sawah. Didi dan Topan segera
bergegas menuju kermunan itu, ketika sampai disana, tak salah dugaan mereka,
anak-anak tersebut sedang berburu tutut, Didi dan Topan ikut dalm kerumanan
dengan memakai baju merah putih mereka turun ke sawah dengan tanah yang basah.
Sangat puas mereka mencari tutut. Tutut adalah sejenis keong kecil yang biasa
ada di sawah. Tetapi bukan tutut yang mereka dapat, baju yang kotor yang mereka
dapat. Ketika mereka asyik bermain di sawah. Tiba-tiba terdengar teriakan,
“ Hayo maraneh, keur naon ngarobe di sawah? Balik!”
Tak disangka pemilik sawah
yang baru saja ditanami bibit itu datang dan memarahi mereka. Bagaimana tidak,
bibit yang baru saja ditanam diinjak-injak oleh anak-anak, termasuk Didi dan
Topan. Secepat mungkin mereka lari seperti dikejar anjing. Tak menghiraukan
rumput yang berduri serta jalanan yang rumpil. Mereka terabas semua demi
hilangnya jejak mereka dari penglihatan pemilik sawah.
Sesampainya di rumah, Didi tidak melihat Abah maupun
Emaknya, Didi hanya melihat keranjang jualan Emak yang tergeletak di dapur.
Didi segera mengganti baju karena takut Emak marah kepadanya. Didi langsung
pergi bermain kembali hingga sore hari. Sepulangnya Didi dari bermain, dia lupa
akan baju kotor yang dia tinggalkan di rumah. Sesampainya di depan pintu, dia
melihat Emak yang sedang mencuci baju, dia baru teringat akan baju kotor yang
dia taruh di kamar mandi.
“ Didi, tos timana? Ieu baju kotor pisan?! Tadi Ceu Enjun
kadieu ngalaporkeun Didi cenah tos maen ti sawah ngarusak bibit nu karek
ditanem? Naha bener kitu?!” ucap Emak dengan nada yang kesal.
“ Iya Emak, tadi Didi teh pulang sakola ka sawah sareng
Topan, hampura Didi, Mak?”
“ Kahade Didi ulah arek diulang deui eta kajadian teh,
karunya Ceu Enjun, bibitna rusak, ari Didi teh kasian nggak ka Emak jeung Abah?
Kalau kasihan mah atuh ulah erek nakal bae!”
Emak kesal dengan tingkah
laku Didi, Emak langsung keluar untuk menjemur pakaian dengan raut muka yang
marah. Didi hanya bisa diam ketika terkena marah Emaknya. Sedangkan Abah saat
itu sedang tidak ada, Abah sedang keliling kampung sialturahmi dengan tetangga.
Didi berangkat mengaji lebih awal, dia ingat sekarang adalah jadwal untuk
mengaji Qiro’at. Didi bersiap dan segera menuju Masjid.
Sesampainya dia di Masjid, Didi bertemu dan mencium
tangan Ustadz Alwan yang sudah datang lebih dahulu. Didi membantu Ustadz Alwan
membersihkan masjid hingga selesai saat adzan Maghrib. Setelah adzan maghrib,
para santri mulai belajar kembali qiro’at menuju tingkat selanjutnya. Dengan
kesabaran Ustadz Alwan, para santri akhirnya bisa mengaji dengan Qiro’at.
Novel Chapter 1
MUTIARA “DD” DARI SUNDA
{ 1 }
Hal yang Tidak Terduga
Hal yang Tidak Terduga
Gemercik air di pagi hari, membasahi
daun hijau yang indah. Matahari menyembunyikan cahyanya dibalik awan yang
berkumpul membuat suasana mendung. Mendung yang menemani aktivitas banyak orang
pada pagi hari, terlihat tidak ada seorang pun berbaju tipis, berbaju tebal lah
yang terlihat. biarpun mendung, mereka tetap semangat menjalani aktivitasnya.
Cuaca mendung disertai dingin mengingat selalu pada kasur yang empuk dan
selimut yang setia menghangatkan saat tubuh terasa dingin. Namun, apa lah daya?
Rutinitas tetaplah rutinitas, tidak perlu ditinggalkan, toh tidak membuat susah
sedikit pun.
” Didi, bangun atuh, udah siang ini
teh!” teriak pagi Emak Siti pun salah satu rutinitas yang tidak bisa
ditinggalkan oleh Didi. Didi adalah anak tunggal Emak Siti, dia adalah anak
yang sederhana dan polos. Kesundaannya kental, maklum dia tinggal di tanah
sunda. Tanah kelahirannya Garut membuat sundanya sangat kental, dari sisi
kehidupan sosial, agamanya, semuanya dicampur dengan adat istiadat Sunda. Didi
pun mewarisi sifat-sifat orang sunda yang ramah tamah, sopan santun dan
memiliki kepribadian yang baik. Tetapi, Didi terkenal sebagai anak yang malas.
Dia tidak peduli dengan sekolah dan segala yang berkaitan dengan belajar. Dia
masih duduk di sekolah dasar.Namanya terkenal di seluruh kelas di sekolahnya,
gurunya pun menjadi fans seorang Didi, karena setiap hari pasti ada saja guru
yang ingin bertemu dengan Didi. Tentu saja bertemunya itu bukan tanpa alasan,
ini karena hal yang sangat penting yaitu keterlambatan Didi masuk sekolah.
Tidak bosan Didi menjalani
rutinitasnya bangun siang dan berangkat sekolah siang. Tidak kenal cuaca, tidak
kenal suasana dan tidak kenal keadaan lingkungan sekitarnya. Ya begitulah Didi
yang mempunyai banyak fans itu, rutinitasnya di siang hari sekolah adalah
hormat dengan berdiri satu kaki di depan tiang bendera. Entah dengan cara
apalagi Didi bisa mandiri, tanpa membuat kesalahan. Emak dan Abahnya selalu
menasihatinya, tetapi bagai angin masuk telinga kanan dan keluar telingan kiri,
Didi tetap saja seperti itu.
Teman-temannya menganggap Didi
sebagai orang tahan panas, tetapi bukan melamin ya, maksud tahan panas disini
yaitu tahan terhadap panas matahari ketika ia dihukum. Pergaulan Didi dengan
teman-temannya pun kurang terlihat baik, tidak pernah Didi terlihat pulang
sama-sama dengan mereka, kecuali dengan sahabat karibnya yaitu Topan. Didi dan
Topan menyisiri tepian jalan menuju ke rumah. Memang tidak terlalu jauh jarak
rumah Didi menuju sekolah, dia hanya jalan kaki tanpa meminta bantuan angkutan
apapun. Didi selalu terlihat ceria sepanjang jalan pulang sekolah, tetapi
langkahnya sering terputus-putus disebabkan beberapa hal. Diantaranya karena
sehabis sekolah dia habiskan waktunya untuk bermain.
“ Kamana atuh si Didi teh, meni lama pisan sakola teh”.
Emak Siti menunggu kedatangan anaknya dari sekolah. Dia
setia menunggu Didi di rumah. Terdengar suara pintu membuka diiringin dengan
ucapan salam. Emak Siti dengan segera menuju arah pintu terbuka tersebut dengan
harapan Didi pulang. Tetapi ternyata dugaan Emak salah, hanya ada Topan yang
berdiri dekat pintu. Emakterkejut ketika melihat Topan basah kuyup di tengah
terik matahari. Topan nampak terlihat kedinginan, serta menggigil. Dia sama
sekali tak berkata. Berkali-kali Emak bertanya Topan tak kunjung menjawabnya
dia hanya menggeram dengan kedinginan. Ia mulai berbicara, tetapi patah-patah.
”tengge..lam, Mak.”
Sontak
ucapannya membuat kaget Emak. Emak
dengan keras bertanya-tanya kepada Topan apa yang terjadi dengan Didi. Tak
berpikir lama, Emak langsung menuju sungai yang dekat sekitarnya. Dengan
langkah yang tergesa-gesa dan napas yang tersengal Emak berlari menuju sungai
yang dekat dengan rumahnya. Emak teringat sungai itu adalah tempat bermain
Didi. Mata Emak terbelalak, napasnya berhenti seketika melihat warga sedang
berkerumun, tanpa berpikir lama Emak langsung menembus kerumunan menuju ke
depan, dengan berteriak,
“Didi!”
Hal
itu membuat semua pandangan tertuju pada Emak yang histeris teriakannya.
Pandangan terheran-heran sangat jelas terlihat di mata orang-orang yang
berkerumun dekat sungai. Seketika Emak Siti terlihat diam membisu, tidak
berkata apa-apa, tubuhnya yang gemetar seketika berubah menjadi tubuh bagaikan
tanpa tulang, dengan muka yang ditutupi oleh tangannya. Emak Siti merasakan
malu yang amat dalam, dia menanggung malu sebab yang didapatinya setelah
menembus kerumunan orang menuju ke depan adalah seekor ikan besar yang sedang
dipertontonkan kepada orang-orang. Seekor ikan besar tertangkap di sungai ini
adalah hal yang sangat jarang. Itulah mengapa orang berkerumun disana. Emak
langsung mundur dengan pelan sambil mengatakan,
“maaf”.
Betapa
malunya Emak dengan kejadian itu, Emak kebingungan sendiri, dengan kesal Emak
bergegas menemui Topan yang telah membohonginya. Emak bingung memikirkan kemana
perginya anak tunggalnya itu. Di tengah perjalanan,
“Emak!”
Didi
terlihat dari kejauhan, Emak sangat heran kenapa Didi bisa ada di hadapannya.
Pikiran dan hatinya bercampur aduk antara rasa kesal dan bingung. Sungguh hal
yang sangat menyedihkan bagi seorang ibu. Seorang ibu yang menunggu kedatangan
anaknya dengan sabar malah dibalas dengan hal yang mempermalukan. Ketika Didi
datang di hadapannya, Emak sedikit pun tak mengiraukannya, bahkan menoleh pun
tidak. Emak hanya berjalan lurus menuju rumah dengan tidak menghiraukan segala
pertanyaan Didi. Hingga di rumah pun Emak tetap dalam keadaan membisu.
Dengan keadaan seperti ini, bagi
Didi adalah hal yang biasa. Dia berpikir nanti sebentar lagi Emak akan bersikap
seperti biasa lagi. Didi adalah seorang perayu ibu yang sangat handal, ketika
Emak marah besar pun Didi masih bisa menaklukannya. Mungkinkah hal ini terjadi
karena Didi adalah anak satu-satunya sehingga kasih sayang yang diberikan
begitu besar? Jawabannya itu tidak benar. Tidak dibenarkan jika seorang ibu
hanya mendidik dengan penuh kasih sayang, tetapi bukan juga berarti ibu harus
bersikap keras terhadap anaknya. Dalam memberikan pendidikan, orangtua adalah
orang yang paling berperan didalamnya, sifat dan watak dari seorang anak
merupakan cerminan dari keberhasilan orang tua mendidik anaknya. Jika selalu
memanjakan anak, tentunya bukanlah hal yang baik. Seorang anak akan merasa
manja, sehingga ketika dalam suatu keadaan orangtua tidak dapat memberikan apa
yang biasa diberikan kepada anaknya, si anak akan selalu berontak meminta hal
tersebut. Seorang anak tidak akan mengerti keadaan lingkungan. Lewat hal
tersebut seorang anak harus diberikan
pengertian hal apakah yang harus dilakukan ketika dalam keadaan yang tidak
memungkinkan.
Setelah kejadian yang memalukan itu,
Emak kembali seperti biasa. Ini percis seperti pendapat Didi, Didi merayu
dengan menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi. Dari mulai ketelatannya pulang
ke rumah dan Topan yang datang ke rumah. Saat itu, Didi dan Topan pulang
sekolah bersama, ditengah perjalanan mereka menemukan sabut kelapa yang
tergeletak. Dengan ide yang datang bagai kilat, mereka mengubah sabut kelapa
tersebut menjadi sebuah kapal. Mereka pulang menyisiri aliran sungai kecil dengan
kapal yang mereka hanyutkan bersama aliran sungai tersebut. Tetapi ketika di
tengah perjalanan kapal Topan tersangkut daun pisang yang jatuh ke sungai, hawa
dingin yang selalu datang tiap hari membuat semua orang kedinginan. Akhirnya
Topan memutuskan untuk mengambil daun pisang yang menghalangi kapalnya. Sungai
yang dangkal memudahkan Topan untuk mengambilnya.
Didi berjalan meninggalkan Topan
yang sedang mengambil daun pisang tersebut dengan mengikuti kapalnya. Kejadian yang tidak
terduga menimpa Topan, dia terpeleset saat tangannya hampir mengenai daun
pisang yang melintang itu, sehingga ia masuk ke dalam sungai sampai basah
kuyup. Saat ia telah kembali berjalan dia menemukan kapal Didi yang tersangkut,
kali ini dia tidak berani mengambilnya karena pada bagian ini kedalamannya
lumayan dalam untuk anak seumuran SD. Tapi sama sekali dia tidak melihat Didi
disini, ia kira Didi akan terus mengikuti kapalnya, tetapi saat kapalnya
tersangkut kemanakah Didi? Topan kebingungan dan takut ada suatu hal yang terjadi
dengan Didi. Tanpa berpikir panjang dia bergegas memberitahu Emak Siti, Topan
berlari sangat kencang. Sehingga saat memberitahu Emak Siti napasnya
tersengal-sengal. Topan tidak mengetahui bahwa Emak Siti akan sesegera mungkin
mencari Didi yang belum pulang tanpa mendengar penjelasannya. Ketika Emak telah
ke tepi sungai, Didi datang dengan muka yang sumringah. Didi menceritakan
bagaimana dia bisa pulang telat. Didi mempunyai alasan bahwa dirinya tidak
bersama dengan Topan karenan pada saat kapalnya tersangkut, dia bergegas
mengikuti kadal dengan warna unik lewat di hadapannya. Didi mencarinya hingga
ke pojok sawah, tetapi dia tidak menemukannya. Setelah itu, dia memutuskan
untuk menyusul Topan, tetapi saat dia kembali ke tempat semula dia tidak
menemukan batang hidung Topan, tanpa berpikir panjang Didi langsung menuju
rumah dan didapati Topan yang berdiri di depan rumahnya sambil kedinginan.
Sungguh aneh memang kejadian ini,
Didi merasa bersalah kepada Emak Siti, Didi berjanji tidak akan mengulangi hal ini
lagi. Didi sering kali pulang telat ke rumah tetapi tidak sampai terlalu sore,
kejadian tersebut membuat Didi jera. Didi sangat sayang terhadap Emaknya, Emak
bagi Didi adalah seseorang yang paling penting, walaupun Didi terkenal dengan
malasnya ke sekolah, tetapi bakti Didi kepada Emak tidak pernah ketinggalan.
Emak yang berjualan serabi setiap pagi selalu dibantu oleh Didi, itulah
sebabnya Didi selalu bangun siang karena sehabis membantu Emaknya membuat
serabi Didi tidur kembali. Didi selalu mengedapankan kepentingan Emaknya,
terkadang Didi rela tidak mengerjakan tugas sekolah karena membantu Emaknya,
walaupun Emak telah melarangnya tetapi Didi bersikeras membantu Emaknya.
Wataknya memang keras kepala, susah diatur, hanya ingin menang sendiri.
Berkali-kali Emak menasihati Didi agar tidak malas sekolah, tetapi Didi tetap
saja tidak berubah, akhirnya Emak membiarkannya, Emak berpikir yang terpenting
adalah Didi berakhlak baik.
Setiap orang tua mempunyai cara
tersendiri dalam mendidik anaknya, tidak ada orang tua yang membiarkan anaknya
terjerumus kepada keburukan. Emak mendidik Didi dengan cara membebaskan apa
yang diinginkan oleh Didi, yang terpenting Didi tidak mengikuti pergaulan yang
tidak benar. Lingkungan pedesaan yang masih alami, jarang sekali tersentuh oleh
pergaulan seperti di kota. Jarang sekali terlihat anak yang nongkrong dengan
menggenggam android ditangan. Di desa tempat Didi tinggal, anak-anak desa masih
aktif bermain bersama. Setiap pulang sekolah Didi bermain bersama teman-teman
di lapangan, ketika musim angin tiba banyak layangan yang cantik bertebaran di
atas langit. Saling berlomba ketinggian satu sama lain, selain itu masih ada
permainan tradisional yang dimainkan seperti enggrang, petak umpet, dan
bebentengan.
Adat istiadat Sunda di desa ini
masih sangat terjaga. Orang sunda yang terkenal denga keluguannya tercover
semua di desa ini. Desa yang sangat asri, dengan orang-orang yang ramah tamah
membuat damai desa ini. Mereka buka tidak kenal dengan modern, mereka kenal,
tetapi tidak menjadikan kemodern merajai mereka. Orang-orang di desa ini
disamping dengan kekentalan budayanya juga kental dengan agama. Mereka menomor
satuka agama dalam setiap hal. Semua penduduk desa ini beragama islam, mereka
menjalankan seluruh syariat agama. Tidak ada pelanggaran norma apapun disini.
Mereka hidup saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
Kegiatan keagamaan merupakan hal
yang tidak terpisahkan dari desa ini. Mereka menanamkan nilai keagamaan kepada
anak-anak desa dengan cara mengajari mereka pengetahuan agama Islam. Setiap
sore hari, anak-anak berbondong-bondong menuju masjid untuk mengaji. Sungguh
pemandangan yang sangat indah sore hari ini. Anak-anak bersemangat untuk
menuntut ilmu Al-qur’an. Mereka berlari-lari kecil menuju masjid. Dengan berseri-seri
anak perempuan memakai kerudung warna-warni yang membuat wajah mereka terlihat
cantik, anak laki-laki juga seperti itu, memakai peci dengan rapi dan berjalan
lugu penuh cahaya ketengan di wajahnya. Didi bersama teman-temannya pun tidak
pernah ketinggalan untuk pergi mengaji di sore hari. Di masjid bersama Pak
Ustadz mereka belajar berbagai hal yang berkaitan dengan agama. Dan mereka pun
mengahafal sedikit demi sedikit surat-surat Al-qur’an serta do’a sehari-hari.
Anak-anak desa ini sungguh beruntung, di desa yang mereka tinggali banyak yang
mengajari pengetahuan agama islam. Sehingga di masa kecil mereka mendapatkan
hal yang paling mulia yaitu pelajaran tentang Al-qur’an. Mereka juga menghafal
surat-surat Al-qur’an, hadits Rasulullah, nama-nama Nabi dan Rasul serta
pengetahuan lainnya.
Ustadz Alwan adalah seorang ustadz
pribumi asal desa ini, beliau pergi menuntut ilmu ke luar daerah ketika masih
muda. Ketika beliau telah cukup ilmu, beliau kembali ke desa untuk memberikan
ilmunya kepada orang-orang desa, teritama anak-anak sebagai generasi penerus
bangsa. Ustadz Alwan mengajar tanpa pamrih, tidak ada patokan bayaran
sedikitpun bagi anak-anak desa yang mengaji. Dengan ikhlas Ustadz Alwan
memberikan ilmunya kepada orang-orang di desa.
Didi adalah salah satu penggemar
ustadz Alwan, hal itulah yang membuat Didi tidak pernah absen untuk mengaji.
Rajin Didi pergi ke sekolah dengan pergi ke Masjid berbeda jauh, Didi dalam
satu minggu pergi ke sekolah pasti selalu ada absennya, tetapi di absen ngaji
Didi nyaris tidak mengotori buku absen di Masjid. Didi berpikir bahwa ngaji
adalah hal yang penting, apalagi kesukaannya kepada ustadz Alwan ketika
mengajar membuatnya tidak pernah ingin bolos. Didi sangat paham betul terhadap
apa yang diajarkan oleh Ustadz Alwan, bahkan Didi merupakan salah satu murid
yang pandai di Mushola itu.
Suatu hari, Ustadz Alwan tidak dapat
hadir di Mushola, jama’ah masjid mendapatkan kabar bahwa ustadz Alwan sedang
sakit. Hal ini membuat anak-anak Desa merasa sedih, mereka bingung siapa yang
akan memberikan pelajaran malam ini. Maklum lah anak-anak, naluri mereka yang
senang bermain pun akhirnya muncul. Anak-anak di masjid membuat kegaduhan,
berlarian kesana kemari. Didi tidak tahan mendengar kegaduhan tersebut,
akhirnya Didi memutuskan untuk menjadi pengganti pak ustadz malam ini. Didi
menghentikan kegaduhan yang terjadi. Setelah kegaduhan terhenti, Didi maju ke
depan dan menyeru kepada anak-anak untuk muroja’ah (mengulang) hafalan Al-qur’an. Anak-anak di masjid
menurut, Didi dan Topan adalah anak yang paling tua umurnya dibanding dengan
anak-anak masjid lainnya, jadi wajar ketika Didi menyuruh, mereka langsung
menurut. Muroja’ah pun berlangsung sampai menjelang isya. Waktu belajar mengaji
anak-anak di masjid dimulai dari setelah maghrib hingga menjelang isya, dan
jika ada pelajaran tambahan maka dilanjutkan setelah isya.
Didi dan Topan pulang bersama,ketika
sampai di rumah, Didi menceritakan kepada Emak bahwa tadi Ustadz Alwan tidak
datang ke masjid dan menceritakan apa yang terjadi kepada anak-anak masjid
ketika mereka gaduh. Di dalam hati Emak sangat senang mendengar Didi yang
bersikap tanggung jawab. Itulah yang diharapkan Emak dari anak tunggalnya itu.
Apalagi Didi adalah seorang anak laki-laki, laki-laki jika nanti dewasa akan
ditagih menjadi seorang yang bertanggung jawab. Emak mengaharapkan Didi menjadi
seperti Abahnya, bertanggung jawab.
Senin, 25 Februari 2019
Essay
Tanggung
Jawab Bukan Hanya Milik Pejabat
Tanggung
jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sedangkan sikap
tanggung jawab adalah sikap seseorang dalam menanggung segala sesuatu yang
sudah menjadi kewajibannya. Dalam kehidupan setiap manusia mempunyai tanggung
jawab masing-masing. Tanggung jawab dibedakan menjadi dua, yaitu tanggung jawab
yang lahir dengan sendirinya dan tanggung jawab yang ada karena seseorang
dibebani suatu kewajiban. Tanggung jawab yang lahir dengan sendirinya merupakan
tanggung jawab yang dimiliki setiap manusia, yaitu tanggung jawab sebagai
manusia yang tinggal di bumi dan berkewajiban untuk menjalani kehidupannya
dengan memelihara bumi yang ditinggalinya. Sedangkan tanggung jawab yang ada ketika
seseorang dibebani suatu kewajiban misalnya seorang presiden, seorang pejabat,
seorang menteri yang mempunyai kewajiban sebagai orang terdepan dari seluruh
rakyat suatu negara.
Dari dua macam tanggung jawab
tersebut, kebanyakan orang awam menyimpulkan yang mempunyai tanggung jawab yang
wajib dijalankan hanya lah seorang petinggi-petinggi negara ataupun daerah.
Pendapat tersebut tidak benar, karena sejatinya tanggung jawab bukan hanya
milik mereka yang dibebani kewajiban secara resmi, orang yang tidak mempunyai
jabatan pun sebenarnya mempunyai kewajiban, yaitu kewajiban sebagai manusia.
Setiap orang harus sadar akan kewajibannya, agar mereka bisa bersikap tanggung
jawab atas kewajibannya tersebut.
Sikap tanggung jawab menimbulkan hal
yang saling berkaitan, misalnya sebagai presiden mempunyai tanggung jawab
memimpin negaranya dan menjadikan negaranya makmur. Tetapi dalam hal tersebut
bukan hanya presiden saja yang bertanggung jawab, jika berkaitan dengan negara
maka seluruh warga negara diberi beban kewajiban untuk menjaga negaranya dan
memakmurkan negaranya, presiden hanya memimpin dan mengarahkan rakyatnya agar
ikut serta dalam memakmurkan negara. Tetapi ada suatu hal yang terjadi di
masyarakat mengenai hal tersebut, ada saja masyarakat yang hanya bisa meminta
pertanggung jawaban kepada pejabat-pejabat negara tanpa ia memberikan tanggung jawabnya
sebagai masyarakat.
Dalam Hak Asasi Manusia telah kita
ketahui bahwa mengemukakan pendapat dimuka umum merupakan hak setiap individu,
tetapi dalam implementasinya hak itu tidak bersifat mutlak. Dalam berbagai
sosial media banyak sekali ditemukan kritik-kritik, hujatan-hujatan yang
menjurus pada pertanggung jawaban seseorang, entah itu pejabat maupun
perseorangan. Tidak disalahkan jika mengkritik, tetapi akan lebih baik kritik tersebut
disertai dengan saran. Setiap masyarakat harus sadar akan kewajibannya sebagai
warna negara, maka dari itu seluruh masyarakat harus saling menghargai terhadap
apa yang telah dilakukan seseorang, adapun sisi tidak baiknya yang harus diberi
kritik dan saran agar bisa memperbaiki. Sebagai masyarakat kita mempunyai
tanggung jawab untuk menjaga persatuan dan kesatuan, serta ikut serta dalam
memajukan negara.
Dengan demikian, kita harus sadar
bahwa tanggung jawab bukan hanya milik pejabat, tetapi milik kita semua. Kita harus
tanggung jawab terhadap tugas sebagai masyarakat yang baik, yang ikut serta
menjaga serta memajukan negara. Kita tidak bileh menjadi kritikus yang tidak
berilmu, jadilah kritikus yang berilmu yang dapat memperbaiki yang salah. Suatu
negara dikatakan maju apabila telah memperbaiki kegagalannya. Dalam hal ini
kita harus saling bertanggung jawab dalam menjalankan tugas sebagai warga
negara.
Langganan:
Komentar (Atom)